Hello…This's Mutiara Oktavianti

SULOSIO PLASENTA

SULOSIO PLASENTA

1. Defenisi

            Istilah lain dari solusio plasenta adalah ablation plasentae,abruption plasentae,accidental haemorrhage dan premature separation of the normally implanted plasenta.

        Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung sejak kehamilan 28 minggu.

 

2. Klasifikasi
Menurut derajat lepasnya plasenta:
1. Solusio plasenta parsialis

Bila hanya sebagian saja plsenta terlepas dari tempat perlekatannya.

2.   Solusio plasenta totalis (komplet)

Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat perlekatannya.

3.  Kadang-kadang plasenta ini turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan          dalam,disebut prolapsus plasenta

  • menurut tingkat gejala klinik menjadi ringan, sedang, dan berat.
  • menurut penyebabnya:
  • Non toksik:

      Biasanya ringan dan terjadinya sewaktu partus

  • Toksik:

      Lebih parah, terjadinya biasanya pada kehamilan trimester ketiga, dan disertai     kelainan-kelainan organik.

 

3. Etiologi

 Sebab yang jelas terjadinya solusio plasenta belum diketahui, hanya para ahli mengemukakan teori:

Akibat turunnya tekanan darah secara tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju keruangan interviler, maka terjadilah anoksemia dari jaringan bagian distalnya. Sebelum ini menjadi nekrotis, spasme hilang dan darah kembali mengalir ke dalam intervili, namun pembuluh darah distal tadi sudah demikian rapuhnya serta mudah pecah, sehingga terjadi hematoma yang lambat laut melepaskan plasenta dari rahim. Darah yang berkumpul di belakang plasenta disebut hematoma retoplasenter.

Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain:

1)      factor vaskuler (80-90 %), yaitu toksemia gravidarum, glomerulonefritis kronika, dan hipertensi esensial.

Karena desakan darah tinggi, maka pembuluh darah mudah pecah, kemudian terjadi haematom retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas.

2)      Faktor trauma:

  • Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli.
  • Tarikkan pada tali pusat yang pendekakibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar, atau pertolongan persalinan.

3)       Faktor paritas.

Lebih banyak dijumpai pada milti dari pada primi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta dijumpai 45 milti dan 18 primi.

4)      Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dan lain-lain.

5)      Trauma langsung seperti jatuh, kena tendangan dan lain-lain.


4. Gejala-gejala

Perdarahan yang disertai nyeri, juga diluar his 

  • Anemia dan shock :  beratnya anemia dan shock sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar
  • Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois)
  • Palpasi sukar karena rahim keras
  • Fundus uteri makin lama makin naik
  • Bunyi jantung biasanya tidak ada
  • Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah)
  • Sering ada proteinuria karena disertai toxemia
  • Diagnosis didasarkan atas adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri, uterus yang tegang dan nyeri setelah plasenta lahir atas adanya impresi (cekungan) pada permukaan maternal placenta akibat tekanan haematoma retroplacentair
  • Perdarahan dan shock diobati dengan pengosongan rahim segera mungkin hingga dengan kontraksi dan retraksi rahim. Perdarahan dapat terhenti. Persalinan dapat dipercepat dengan pemecahan ketuban dan pemberian infus dengan oxytocin.

 Jadi pada solusio plasenta pemecahan ketuban tidak dimaksudkan untuk hentikan perdarahan dengan segera seperti pada placenta previa tapi untuk mempercepat persalinan dengan pemecahan ketuban regangan dinding rahim berkurang dan kontraksi rahim menjadi lebih baik, disamping tindakan tersebut transfusi sangat penting (Winkjosastro, 2005).


5. Manifestasi Klinis

A.  Gejala Utama

Perdarahan pervaginam berwarna kehitaman dengan uterus yang terasa nyeri dan tegang.

B.  Gambaran klinik

Perdarahan yang timbul akibat solusio plasenta lebih sering terjadi pada triwula ketiga kehamilan. Penampilan klinik solusio plasenta dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu:

  • Solusio plasenta ringan:

ari-ari terlepas sebagian kecil. Ditunjukkan dengan gejala perut sedikit nyeri, rahim mulai menegang dan keluar darah agak kehitaman

  • Solusio plasenta sedang:

seperempat bagian ari-ari telah terlepas. Perut akan nyeri, rahim tak berhenti menegang dan pendarahan dari vagina. Mungkin darahnya tidak banyak tapi sebenarnya pendarahan hebat terjadi di dalam tubuh sekitar 1.000 ml. Ibu hamil akan syok kehilangan kesadaran serta kemungkinan janin meninggal. Jika janin masih hidup, kondisinya sudah gawat.

  • Solusio plasenta :

berat lebih dari duapertiga bagian ari-ari telah terlepas. Perut akan sangat tegang dan sangat nyeri. Ibu hamil syok dan janin sudah meninggal. Pendarahan kemungkinan tidak sampai keluar karena sudah terjadi pembekuan darah di dalam tubuh.

Solusio plasenta yang ringan, pada umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas, perdarahan antepartum hanya sedikit, dalam hal ini diagnosis baru kita tegakkan setelah anak lahir. Pada plasenta kita dapat koagulum-koagulum darah dan krater.

Pada keadaan yang agak berat kita dapat membuat diagnosis berdasarkan:

1. Anamnesis

  • Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut; kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang paling sekit, dimana plasenta terlepas.
  • Perdarahan pervaginam yang bersifat bisa hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuandarah.
  • Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi).
  • Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang, ibu kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar.
  • Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan dan faktor kausal yang lain.

2. Inspeksi

  • Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan .
  • Pucat, sianosis, keringat dingin.
  • Kelihatan darah keluar pervaginam

3. Palpasi

  • Fundus uteri tambah naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma; uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
  • Uterus teraba tegang dank eras seperti papan yang disebut uterus in bois (woodenuterus) baik waktu his maupun diluar his.
  • Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas.
  • Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut (uterus) tegang.

 4. Auskultasi

Sulit karena uterus tagang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140, kemudian turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga.

5. Pemeriksaan dalam

  • Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup.
  • Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun diluar his.
  • Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun kebawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus plasenta, ini sering dikacaukan dengan plasenta previa.

6. Pemeriksaan umum

  • Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok.
  • Nadi cepat, kecil, dan filiformis.

7. Pemeriksaan laboratorium

o   Urin

Albumin (+); pada pemeriksaan sediment terdapat silinder dan lekosit.

o   Darah

Hb menurun (anemia), periksa golongan darah, kalau bisa cross match test.

Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah atau hipofibrionogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam, tes kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%)

 8. Pemeriksaan plasenta

Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksa plasentanys. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter.

 9. Perdarahan pada Solusio Plasenta

Perdarahan pada solusio plasenta bisa mengakibatkan darah hanya ada di belakang plasenta (hematoma retroplasenter); darah tinggal saja didalam rahim yang disebut internal haemorrhage (concealed haemorrhage); masuk merembes ke dalam amnion; atau keluar melalui vagina (antara) selaput ketuban dengan dinding uterus), yang disebut external haemorrhage (revealed haemorrhage).

Jika solusio plasenta lebih berat dapat terjadi couvelair uterus (apopleksi uteroplasenter). Dalam hal ini darah merembes memasuki otot-otot rahim sampai kenawah serosa, bahkan kadang-kadang sampai ke ligamentum latum dan melalui tuba masuk kerongga panggul. Uterus kelihatan lebih besar, dinding uterus penuh dengan bintik-bintik merah hematoma dari kecil sampai besar.

Ada 2 bentuk Couvelair Uterus, yaitu:

  1. Couvelair Uterus dengan kontraksi uterus baik.
  2. Couvelair Uterus dengan kontraksi uterus jelek, sehingga terjadi perdarahan postpartum.

 Couvelair Uterus terjadi karena berbagai teori, antara lain vasospasme, perubahan-perubahan toksik, adanya hematoma retroplasenter yang hebat, uterus yang terlalu regang atau a/hipofibrinogenemia. Hal-hal tersebut menyebabkan pembuluh darah dinding uturus pecah.

 10. Diagnosis Banding

  • Solusio plasenta
  • Plasenta previa
  • Rupture uteri

 

6. Komplikasi

a)      Langsung (immediate)

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Emboli dan Syok obstetric

b)      Komplikasi tidak langsung (delayed)

  • Couvelair uterus, sehingga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan postpartum
  • a/hipo-fibrinogenemia dengan perdarahan postpartum
  • nekrosis korteks renalis, menyababkan anuria dan uremia
  • kerusakan-kerusakan argan seperti hati, hipofisis dan lain-lain.

 

7. Terapi

Atasi syok

–   Infus larutan NS/RL untuk restorasi cairan, berikan 500 ml dala 15 menit pertama dan 3 l dalam 2 jam pertama

–   Berikan transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki faktor pembekuan akibat koagulatif

–   Tatalaksana oliguria atau nekrosis tubuler akut
Tindakan restorasi cairan, dapat memperbaiki hemodinamika dan mempertahankan eksresi sistem urinaria, tetepai bila syok terjadi secara cepat dan telah berlangsung lama (sebelum dirawat), umumnya akan terjadi gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan oliguria (produkdi urin < 30 ml/jam) pada kondisi yang lebih berat dapat terjadi anuria yang mengarah pada nekrosis tubulus renalis. Setelah restorasi cairan dilakukan tindakan untuk mengatasi gangguan tersebut dengan : Furosemida 40 mg dalam 1 liter krostoloid dengan 40-60 tetes/menit Bila belum berhasil gunakan manital 500 ml dan 40 tetes/menit Atasi hipofibrigonemia Restorasi cairan/darah sesegera mungkin dapat menghindarkan terjadinya koagulopati Lakukan uji beku darah (bedside coagulation test) untuk menilai fungsi pembekuan darah (penilaian tidak langsung kadar ambang fibrinogen)).

Carananya sebagai berikut : Ambil darah vena 2 ml masukkan dalam tabung kemudian diobservasi Gangguan bagian tabung yang berisi darah Setelah 4 menit, miringkan tabung untuk melihat lapiran koagulasi dipermukaan, lakukan hal yang sama tiap menit Bila bagian permukaan tidak membeku dalam waktu 7 menit, maka diperkiran titer fibrinogen dianggap di bawah nilai normal (kritis) Bila terjadi pembekuan tipis yang mudah robek bila tabung dimiringkan, keadaan ini juga menunjukan kadar fibrinogen di bawah ambang normal. Bila darah segera tidak dapat segera diberikan, berikan plasma beku segar (15 ml/kg BB) Bila plasma beku segar tidak tersedia, berikan kriopresipatat fibrinogen Pemberian fibrinogen, dapat memperberat terjadinya koagulasi desminato intravaskuler yang berlanjut yang berlanjut dengan pengedapan fibrin, pengendapan fibrin, pembendugan mikrosirkulasi di dalam, di dalam organ-organ vital, seperti ginjal, glandula adrenalis hipofisis dan otak. Bila perdarahan masih berlangsung (koagulatif) dan trombosit di bawah 20.000 berikan konsetra trombosit.

Hypofibrinogenemia : coagulopathi ialah kelainan pembekuan darah : dalam ilmu kebidanan paling sering disebabkan oleh solusio plasenta, tapi juga dijumpai pada emboli air ketuban, kematian janin dalam rahim dan perdarahan postpartum. Kadar fibrinogen pada wanita yang hamil biasanya antara 300-700 mg dalam 100 cc. bila kadar fibrinogen dalam darah turun di bawah 100 mg per 100 cc terjadilah gangguan pembekuan darah. Terjadinya hipofibrinogenemia : Fase I : pada pembuluh darah terminal (arteriol, kapiler, vena terjadi pembekuan darah disebut disseminated intravaskuler clotting, akibatnya ialah bahwa peredaran darah kapiler (microcirculasi) terganggu. Jadi pada fase I turunya kadar fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut. Maka fase I disebut juga coagulopatihi consumtif. Diduga bahwa hematom retroplacentair mengeluarkan thtomboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut.

Akibat gangguan mikrocirculasi terjadi kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoxia, kerusakan ginjal menyebabkan oliguri/anuri, akibat gangguan mocrocirculsi ialah shock Fase II : fase regulasi reparatif ialah usaha badan untuk membuka kembali perdarahan. Darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolyse. Fibrinolyse yang berlebihan lebih lagi menurunkan kadar fibrinogen hingga terjadi perdarahan patologis Penentuan hypofibrinogenaemi Penentuan fibrinogen secara laboratoris memakan waktu yang lama maka untuk keadaan akut baik dilakukan clot obsevation test. Beberapa CC darah dimasukkan dalam tabung reagens. Darah yang normal membeku dalam 6-15 menit. Jika darah membeku cair lagi dalam 1 jam maka ada aktivitas fibrinolyse (Winkjosastro, 2005).

Patofisiologi Terjadinya solusio placenta dipicu oleh perdarahan ke dalam disidua basalis, yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada meometrium sehingga terbentuk hematoma disidual yang menyebabkan perlepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran placenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Ruptur pembuluh arteri spiralis disidua menyebabkan hematoma retroplacenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan placenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban (Mansjoer, 2001).

Pengobatan Umum Pemberian darah yang cukup Pemberian O2 Pemberian antibiotica Pada shock yang berat diberi kortikasteroid dalam dosis tinggi Khusus Teraphy hypoibrinogenemi Subtitusi dengan human fibrinogen 10 gram atau darah segar Menghentikan fibrinolyse dengan trasylol (proteinase inhibitor) 200.000 s IV selanjutnya kalau perlu 100.000 s/jam dalam infus Untuk merangsang diurese : mannit/mannitol Deurese yang baik lebih dari 30-40 cc/jam Obstetris Pimpinan persalinan pada solusio placenta bertujuan untuk mempercepat persalinan diharapkan dapat terjadi dalam 3-6 jam. Alasannya adalah : Bagian placenta yang terlepas meluas Perdarahan bertambah Hypofibrinogenaemi menjelma atau bertambah Tujuan ini dicapai dengan : Pemecahan ketuban : pada solusio placenta tidak bermaksud untuk menghentikan perdarahan dengan segera tetapi untuk mengurangi regangan dinding rahim dan dengan demikian mempercepat persalinan Pemberian infus pitocin ialah 5 c dalam 500 cc glucase 5% SC dilakukan : Kalau cerviks panjang dan tertutup Kalalu setelah pemecahan ketuban dan pemberian oxytocin dalam 2 jam belum pecah juga ada his Hysterektomi dilakukan kalau ada atonia uteri yang berat yang tak dapat diatasi dengan usaha-usaha yang lazim. (Manuaba, 1999)

Seksio Sesaria Seksio sesaria dilakukan apabila : Janin hidup dam pembekuan belum lengkap Janin hidup, gawat janin, tetapi persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera Janin mati pervaginam dapat berlangsung dalam waktu yang singkat Persiapan untuk sesaria cukup dilakukan penanggulangan awal (stabilisasi dan tatalaksana komplikasi) dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan. Hematoma meometrium tidak mengganggu kontraksi uterus Observasi ketat kemungkinan perdarahan ulang (koagulopatti) (Manuaba, 1999)

Partus Pervaginam Partus pervaginam dilakukan apabila : Janin hidup, gawat janin, pembekuan lengkap, dan bagian terendah didasari panggul Janin telah meninggal dan pembukaan serviks > 2 cm.

Pada kasus pertama, amniotomii (bila ketuban belum pecah), kemudian percepat kala II dengan ekstraksi forceps (vakum)

Untuk kasus kedua, lakukan amniotomi (bila ketuban belum pecah) kemudian akselerasi dengan 5 unit oksitosin dla dekstore 5% atau RL, tetesan diatur sesuai dengan kondisi kontraksi uterus.

Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik dalam waktu 24 jam, kecuali bila jumlah trombosit sangat rendah (perbaikan batu terjadi dalam 2-4 hari kemudian).(Manuaba, 1999)

DAFTAR PUSTAKA

 

Cunningham FG. 2006. Obstetri William Vol. 1. Jakarta: EGC. pp: 685-704.
Manuaba prof.dr.ida bagus Gde ,dkk.2003.pengantar kuliah obstetri,jakarta: buku kedokteran EGC
Prawirohardjo sarwono.2009.ilmu kebidanan,jakarta:PT bina pustaka.
Yeyeh R ai,2010.asuhan kebidanan IV patologi,jakarta:trans info media.

MOLA HIDATIDOSA

I.PENGERTIAN

            Mola hidatidosa adalah penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan yang tidak disertai janin dan seluruh villi korealis mengalami perubahan hidrofik (Prof.Ida Bagus Gede Manuaba,2007)

            Mola hidatidosa disebut juga kehamilan anggur yaitu karena adanya jonjot korion(chorionic villi) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyarupai anggur atau mata ikan.Ini merupakan bentuk neoplasma trofoblas yang jinak.

 

2.ETIOLOGI

            Penyebab mola hidatidosa secara pasti belum diketahui.Berbagai factor yang menyebabkan antara lain:

  • Faktor ovum : ovum yang sudah patologik mati api terlambat keluar.
  • immuno selektif dari trofoblas.
  • Keadaan sosioekonomi yang rendah
  • Kekurangan protein
  • Infeksi virus
  • Defisiensi vitamin A
  • Perkawinan usia muda kurang dari 15 tahun atau di atas 45 tahun


3.TANDA DAN GEJALA

a. Pada anamnesis ditemukan tanda dan gejala seperti berikut:

  • Terdapat gejala-gejala kehamilan muda yang lebih nyata dari kehamilan normal misalnya mual muntah yang berlebihan.
  • Kadang kala ada tanda toksemia gravidarum ( pusing,gangguan penglihatan,dan tekanan darah tinggi)
  • Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak
  • Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan
  • Keluar jaringan mola(seperti anggur)yang merupakan diagnosis pasti,namun jaringan mola ini tidak selau di temukan.

b. Pada inspeksi ditemukan tanda dan gejala sebagai berikut:

  • Muka dan terkadang badan kelihatan lebih pucat atau kekuning-kuningan.
  • Jika gelembung mola sampai keluar maka tanda ini akan kelihatan lebih jelas.

c. Pada palpasi ditemukan tanda dan gejala seperti berikut:

  • Uterus membesar tetapi tidak sesuai dengan usia kehamilan.
  • Tidak teraba bagian-bagian ballothement janin dan gerakan janin.

 d. Pada auskultasi ditemukan tanda dan gejala seperti berikut:

  • Tidak terdengar DJJ
  • Terdengar bising dan bunyi khas.

e. Pada tes kehamilan ditemukan kadar HCG yang tinggi.

f.Pada pemeriksaan dalam ditemukan tanda dan gejala seperti berikut:

  • Rahim lebih besar.
  • Konsistensi lebih lembek
  • Tidak ada bagian-bagian janin
  • Teraba jaringan di kanalis servikalis dan vagina.

g. Pada foto rontgen abdomen tidak terlihat adanya kerangka janin

h Pada pemeriksaan USG ditemukan adanya gambaran badai salju(gambaran yang khas pada kehamilan mola) dan tidak terlihat adanya janin.

i. Pemeriksaan laboratorim seperti;

  • Beta hCG urin lebih dari 100.000mIU/ml
  • Beta hCG serum di atas 40.000 IU/ml


4.PATOFISIOLOGI

            Setelah ovum dibuahi,terjadi pembagian dari sel tersebut.Tidak lama kemudian terbentuk biastokista yang mempunyai lumen dan dinding luar.Dinding ini terjadi atas sel-sel ekstoderm yang kemudian menjadi tropoblash.

            Sebagian vili berubah menjadi gelembung berisi cairan jernih,biasa tidak ada janin.Gelembung-gelambung atau tesikel ukurannya bervariasi mulai dari yang mudah dilihat,sampai beberapa sentimeter,bergantung dalam beberapa kelompok dari tangkai yang tipis.Masa tersebut dapat tumbuh cukup besar sehingga memenuhi cavum uteri.Pembesaran uterus sering tidak sesuai dan melebihi usia kehamilan.

            Pada beberapa khusus,sebagian pertumbuhan dan perkembangan villi korealis berjalan normal sehingga janin dapat tumbuh dan berkembang bahkan sampai aterm.Keadaan ini disebut mola parsial.

            Ada beberapa kasus pertumbuhan dan perkembangan villi korealis berjalan normal sehingga janin dapat tumbuh dan berkembang.

a. Teori Missed Abortion

Mudigan mati pada kehamilan tiga sampai lima minggu,karena terjadi gangguan peredaran darah,sehingga terjadi penemuan cairan dalam jaringan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuk gelembung-gelembung.

b. Teori Neoplasma dari park

Bahwa yang normal adalah sel trofoblast yang mempunyai fungsi abnormal pula,dimana terjadi cairan yang berlebihan dalam villi sehingga timbul gelembung,hal ini menyebabkan peredaran gangguan peredaran darah dan kematian mudigan.

 

 5.DAMPAK MASALAH(KOMPLIKASI)

            Dampak terhadap fisik

            Dampak adanya penyakit mola hidatidosa akan menimbulkan penyakit lain seperti:

 a. Perdarahan

Sebelum terjadi keguguran,mola hidatidosa biasanya menunjukkan perdarahan sedikit-sedikit tapi berulang-ulang.Meskipun perdarahan sedikit ,namun karena berlangsung berminggu-minggu maka kehilangan darah dapat menimbulkan anemia pada penderita.Sewaktu terjadi keguguran pada mola hidatidosa biasanya terjadi perdarahan yang hebat dan bila tidak ditangani akan menyebabkan shock dan mungkin kematian .

b. Perforasi

Mola hidatidosa yang ganas dan tindakan yang kurang hati-hati dapat menyebabkan perforasi.Jika terjadi perforasi pada saat melakukan curretge lakukan hal berikut:

  • Hentikan  kuretase
  • Observasi kemungkinan:
  1. Abdomen akut akibat perdarahan intraabdomen
  2. Infeksi dengan suhu tubuh yang meningkat
  3. Laparatomi untuk menghentika perdarahan,diikiti dengan histerotomi untuk mengeluarkan sisa jaringan mola hidatidosa.
  4. Pada primigravida yang masih hamil,dilakukan penjahitan kembali bekas perforasi.

 c. Embolisasi

Sejumlah trombiast dengan tampak stroma villi keluar dari uterus dan masuk ke dalam vena terutama pada saat ekspulasi spontan atau evaluasi terapeutik yang benar.Volume yang masuk ke dalam vena dapat sedemikian besar,sehingga menyebabkan tanda dan gejala emboli paru akut dan makanan total.Kemungkinan yang terjadi jika emboli yaitu dapat terjadi dispne,takikardi,terjadi penurunan tekanan darah.

d. Peradangan

Karena banyak mengeluarkan darah maka daya tahun tubuh menurun dan kuman-kuman masuk sehingga dapat menimbulakan infeksi

e. Timbulnya keganasan

Selama 2-3 tahun setelah melakukan histerektomi pada penderita dengan mola hidatidosa tetap ada kemungkinan timbulnya tumor gana yaitu chariot carcinoma.

           Dampak Psikologis

 Dengan adanya penyakit mola hodatidosa akan mengganggu psikologis pasien seperti pasien akan merasa putus asa,emosi yang tidak stabil dan mungkin pasien tindak bias menerima kondisi kesehatannya serta perasaan takut jika pengobatan yang diberikan tidak dapat menyembuhkan penyakitnya.

 

 6.TERAPI MOLA HIDATIDOSA

            Terapi mola hidatidosa dapat dijabarkan dalam dua bentuk untuk dua keadaan:

1)      Terjadi perdarahan dan ekspulsi jaringan mola hidatidosa.

  • Persiapan pemasangan infuse dan rencana transfuse darah
  • Lakukan curettage suction
    • Lindungi dengan oksitosin drip,sehingga uterus segera mengecil mengikuti dikeluarkannya jaringan mola.
    • Ikuti dengan kuretase tajam sehingga sehingga sebagian jaringan mola dapat dikeluarkan.
  • Observasi tingginya fundus uteri,kontraksi dan perdarahan
  • Evaluasi perdarahan(darah,urin lengkap,jumlah trombosit dll)

2)      Diagnosis mola hidatidosa dapat ditegakan,tetapi tidak terjadi perdarahan dan ekspulsi jaringan mola.Persiapan yang dilakukan adalah pemeriksaan labor seperti pemeriksaan darah dan urin lengkap.

7. PENATALAKSANAAN

  • Perbaiki keadaan umum
  • Keluarkan jaringan mola dengan vakum kuretas dilanjutkan dengan kuret tajam. Lakukan kuretas bila tinggi fundus uterus lebih dari 20 minggu sesudah hari ketujuh
  • Untuk memperbaiki kontraksi, sebumnya berikan uterotonik (20-40 unit oksitosin dalam 250 cc/50 unit oksitosin dalam 500 ml NaCl 0,9%) bila tidak dilakukan vakum kuretase, dapat diambil tindakan histeroktomi.
  • Histeroktomi perlu dipertimbangkan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup anak. Batasan yang dipakai ialah umur 35 tahun dengan anak hidup tiga
  • Terapi proflaksis dengan sitostatik metroteksat atau aktinomisin D pada kasus dengan resiko keganasan tinggi seperti umur tua dan paritas tinggi
  • Pemeriksaan ginekologi, radiologi dan kadar Beta HCG lanjutan untuk deteksi dini keganasan. Terjadinya proses keganasan bisa berlangsung antara 7 hari sampai 3 tahun pasca mola. Yang paling banyak dalam 6 bulan pertama, pemeriksaan kadar Beta HCG tiap minggu sampai kadar menjadi negatif selama 3 minggu lalu tiap bulan selama 6 bulan pemeriksaan foto toraks tiap bulan sampai kadar Beta HCG negatif.
  • Periksa ulang

    Ibu di anjurkan untuk tidak hamil dulu dan di anjurkan memakai kontrasepsi dan lain lain.Kehamilan dimana reaksi kehamilan menjadi positif akan menyulitkan observasi juga dinasehatkan untuk memenuhi jadwal periksa selama 2-3 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba,Ida Bagus.2007.Pengantar Kuliah Obstetri.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC

Prawirohardjo,Sarwono,dkk.2008.Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka

Sulistyawati,Ari.2009.Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan.Jakarta:Salemba Medika

 ASKEB ABORTUS


A.   Defenisi Abortus

 

      Abortus adalah terhentinya kehamilan yang sedang berlangsung sebelum kehamilan 28 minngu atau berat janin sekitar 500 gram (Obstetri dan Ginekologi,Jakarta: EGC)

Dibawah ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus
EASTMEN : Abortus ialah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400 – 1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
JEFFCOAT : Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28 minggu.
HOLMER : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke-16, dinamakan proses plasentasi belum siap.

(Sinopsis Obstetri Jilid I, 2002)

 

B.   Mekanisme Terjadinya Abortus

 Mekanisme terjadinya abortus dimulai dengan proses perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya.Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya ,sehingga merupakan benda asing didalam uterus.Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya.

 C.   Etiologi

1.Faktor Genetik

  • Kelainan kromosom

kelainan kromosom yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi,monosomi,triploid/tetraploid

  • Abortus dua kali karena kelainan kromosom terjadi 80%
  • Sindrom Ehlers-Danlons

Yaitu suatu keadaan membrane endometrium sangat rapuh sehingga mudah rupture atau pecah (rupture membrane abortus spontan)

 2. Faktor Hormonal

  • Defesiensi lueteal
  • Abortus berulang karena factor hormonal sekitar 35-50 %
  • Ibu hamil menderita penyakit hormonal.Seperti diabetes mellitus dan gangguan kelenjer tiroid

3. Kelainan anatomi uterus

  • Sub Mukosa mioma uteri
  • Kelainan congenital uterus seperti septum,uterus arkuatus yang berat,terdapat polip uteri
  • Serviks Inkompeten

 4. Faktor Infeksi genitalia interna

  • Toksoplamosis
  • Sitomegalo virus
  • Rubela
  • Herpes simpleks
  • Infeksi endometrium ( klamdia,toksoplamosis,mycoplasama hominis)

5. Intoksikasi agen eksternal

  • Intoksikasi  bahan anestesi
  • Kecanduan  ( alcohol, perokok, agen lainnya)
  1. Postur Ibu hamil
  • Kurus,BB < 40 Kg
  • Gemuk,BB > 80 Kg

6. Faktor Paternal

  • Hiperspermatozoa,jumlah sperma lebih dari 250 juta
  • Oligozoospermatozoa,Jumlah sperma kurang dari 20 juta
  • Prinsipnya kekurangan DNA

 7. Faktor imunologis

a)      Faktor alloimune

  • Penolakan maternal terhadap hasil konsepsi yang mengadakan implantasi
  • Jika tipe homolog HLA atau antipaternal antibody tinggi,akan berlangsung abortus
  • Kehamilan dipertahankanoleh komponen :

–          Lokal autoimmune reaksi sehingga menetralkan antipaternal antibody yang dijumpai pada sebagian ibu hamil

–          Faktor hormonal dari plasenta yaitu human chorionic gonadotropin dan progesterone

b)      Faktor autoimun,terutama :

  • Antibody antiphosfolipid :

–          Menimbulkan thrombosis,infark plasenta,perdarahan

–          Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan diikuti abortus

  • Antibody anticardiolipin,dalam lupus antikoagulan (LAG) Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan menyebabkan abortus.

 

D.   Patologi Abortus

Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti nekrosis jaringan disekitarnya.Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya,sehingga merupakan benda asing dalam uterus.Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya.Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua lebih dalam,sehingga hasil konsepsi mudah dilepaskan.Pada kehamilan 8 – 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan.Pada kehailan 14 minggu keatas umunya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin disusul dengan plasenta.Perdarahan jumlahnya tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap ( Sarwono,2008)

Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk.Adakalanya kantong amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk jelas (blighted ovum) atau janin telah mati dalam waktu yang lama (missed abortion).

Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan secepatnya,maka akan menjadi mola karneosa.Mola karneosa merupakan suatu ovum yang dikelilingi oleh kapsul bekuan darah.Kapsul memilki ketebalan bervariasi,dengan villi koriales yang telah berdegenerasi tersebar diantaranya.Rongga kecil didalam  yang terisi cairan tampak menggepeng dan terdistorsi akibat dinding bekuan darah lama yang tebal.Bentuk lainnya adalah mola tuberose,dalam hal ini amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.

Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifiksasi.Mumifiksasi merupakan proses pengeringan janin karena cairan amnion yang berkurang akibat diserap,kemudian janin menjadi gepeng (fetus Kompresus).Dalam tingkat lebih lanjut dapat menjadi tipis seperti ketus perkamen (fetus papiraseus).

Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak cepat dikeluarkan adalah terjadinya maserasi.Tulang-tulang tengkorak kolaps dan abdomen kembang oleh cairan yang mengandung darah.Kulit melunak dan terkelupas in utero atau dengan sentuhan ringan.Organ-organ dalam mengalami degenerasi dan nekrosis.

 

E.   Jenis –jenis Abortus

Berdasarkan jenis tindakan,abortus dibedakan menjadi 2 golongan yaitu:

1. Abortus spontan

–          Abortus yang berlangsung tanpa tindakan.Kata lain yang luas digunakan adalah keguguran.

2. Abortus provokatus

Abortus provokatus adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat suatu tindakan.Abortus provokatus dibagi menjadi 2 yaitu :

 –          Abortus Provokatus Terapeutik

Merupakan terminasi kehamilan secara  medis atau bedah sebelum janin mampu hidup. Beberapa indikasi untuk abortus terapeutik diantaranya adalah penyakit jantung persisten dengan riwayat dekompensasi kordis dan penyakit vaskuler hipertensi tahap lanjut.

–          Abortus Provokatus kriminalis

Merupakan interupsi kehamilan sebelum janin mampu hidup atas permintaan wanita yang bersangkutan,tetapi bukan karena alas an penyakit janin atau gangguan kesehatan ibu.Sebagian besar abortus yang dilakukan saat ini termasuk dalam kategori ini.

 F.    Secara Klinis Abortus dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Abortus Imminens

Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu,dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa dilatasi serviks.Pada kondisi ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.  ( Obstetri Ginekologi,Jakarta : EGC)

2. Abortus Insipiens

Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uterus yang meningkat,tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.Kondisi ini menunjukkan proses abortus esdang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit.  (Obstetri Ginekologi,Jakarta : EGC)

3. Abortus Inkomplit

Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. ( Obstetri Ginekologi,Jakarta : EGC)

4. Abortus komplit

Abortus komplit adalah pengeluaran seluruh hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu. ( Obstetri Ginekologi,Jakarta : EGC)

 G.  Diagnosis Abortus

1. Abortus Imminens

Diagnosis abortus imminens ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali , uterus membesar sebesar tuanya kehamilan,serviks belum membuka,dan tes kehamilan positif.Pada beberapa wanita hamil dapat timbul perdarahan sedikit pada saat haid yang semestinya datang jika terjadi pembuahan.Hal ini disebabkan oleh penembusan villi koriales kedalam desidua,pada saat implantasi ovum.Perdarahan implantasi biasanya sedikit,darah berwarna merah,dan cepat berhenti,serta tidak disertai mules.

Pemeriksaan penunjang yang dapat menegakkan diagnosis abortus imminens salah satunya adalah pemeriksaan USG.Pada USG dapat ditemukan buah kehamilan masih utuh.Diagnosis meragukan jika kantong kehamilan masih utuh,tetapi pulsasi jantung janin belum jelas.

2. Abortus Insipiens

Diagnosis insipiens ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri eksternum,disertai mules atau adanya kontraksi uterus.Pada pemeriksaan dalam,ostium terbuka,buah kehamilan masih didalam uterus, serta ketuban masih utuh dan dapat menonjol.

Pada kehamilan lebih dari 12 minggu biasanya perdarahan tidak banyak dan bahaya perforasi pada kerokan akan lebih besar ,maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian infuse oksitosin.

3. Abortus Inkomplit

Diagnosis abortus inkomplit ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules atau adanya kontraksi uterus.Apabila perdarahan banyak dapat menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan.Pada pemeriksaan vaginal,kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.

4. Abortus Komplit

Pada abortus komplit ditemukan adanya perdarahan yang sedikit,ostium uteri telah menutup ,dan uterus telah mengecil.Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.

 

H.  Komplikasi

Komplikasi yanag berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi, infeksi dan syok

1. Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jka perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

2. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalaan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan kandung kemih atau usus. Degan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cidera, untuk selanjutnya mengambil tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi.

3. Infeksi

Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan pada abortus inkomletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis. Umumnya pada abortus infeksius infeksi terbatas pada desidua.

4. Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik). (Wiknjosastro, 2008)

 

I.       Penatalaksanaan Abortus
1. Abortus Imminens

  • Istirahat berbaring: Tidur berbaring merupakan unsure penting dalam pengobatan karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsangan mekanik.
  • Periksa denyut nadi dan suhu badan 2x sehari bila pasien tidak panas dan tiap 4 jam bila pasien panas
  • Tes kehamilan dapat dilakukan dan pemeriksaan USG untuk menentukan lebih pasti apakah janin masih hidup
  • Pemberian obat penenang, biasanya fenobarbital 3×30 mg dan preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600-100 mg
  • Diet tinggi protein dan vitamin C
  • Bersihkan vulva minimal 2x sehari dengan cairan antiseptic untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat

PRINSIP

Perdarahan pervaginam kehamilan kurang dari 12 minngu :

  • Jangan langsung dicurate
  • Tentukan dulu,janin mati atau hidup jika kemungkinan periksa dengan USG
  • Jangan terpengaruh hanya pemeriksaan B-HCG yang positif,karena meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin.

2. Abortus Insipiens

  • Bila perdarahan tidak banyak ,tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan mrfin
  • Pada kehamilan kurang dari 12 minggu , yang biasanya disertai perdarahan ,tangani dengan pengosonga uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus,disusul dengan kerokan memakai kuret tajam.Suntikan ergometrin 0,5 mg IM
  • Pada kehamilan lebih dari 12 minggu ,berikan infuse oksitosin 10 IU dalam dekstrose 5% 500ml dimulai 8 tetes permenit dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
  • Bila janin keluar ,tetapi plasenta masih tertinggal lakukan pengeluaran plasenta secara manual

 

PRINSIP

Perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 12 minggu :

  •  Jangan langsung dicurate
  • Tentukan dulu,janin mati atau hidup jika kemungkinan periksa dengan USG
  • Janagn terpengaruh hanya pemeriksaan B-HCG yang postif,karena meskipun janin sudah mati , B-HCG mungkin ,masih tinggi bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin

 3. Abortus Inkomplit

  • Bila disertai syokkarena perdarahan,berikan infuse cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan seleka mungkin ditranfusi darah
  •  Setelah syok diatasi ,lakukak kerokan dengan kuret tajam lalu suntikannergometrin 0,2 mg IM
  • Bila janin sudah keluar,tetapi plasenta masih tertinggal,lakukan pengeluaran plasenta secara manual
  • Berikan antibiotic untuk mencegah infeksi

 

PRINSIP

Perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 12 minggu :

  • Jangan langsung di kurate
  • Tentukan dulu ,janin mati atau hidup jika kemungkinan periksa dengan USG
  • Jangan terpengaruh hanya pemeriksaan B-HCG yang positif,karena meskipun janin sudah mati ,B-Hcg mungkin masih tinggi ,Bisa bertahan sampai 2 bulan  setelah kematian janin

 4. Abortus Komplit

  • Bila kondisi pasien baik,berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama 3- 5 hari
  • Bila pasien anemia ,berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau tranfusi darah
  • Berikan antibiotic untuk mencegah infeksi
  • Anjurkan pasien diet tinngi protein,vitamin,mineral

PRINSIP

  • Jangan langsung di kurate
  • Tentukan dulu ,janin mati atau hidup jika kemungkinan periksa dengan USG
  • Jangan terpengaruh hanya pemeriksaan B-HCG yang positif,karena meskipun   janin sudah mati ,B-Hcg mungkin masih tinggi ,Bisa bertahan sampai 2 bulan  setelah kematian janin

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Jakarta :EGC

Sastrawinata, Sulaiman. 1992. Obstetri Patologi, Universitas Padjajaran Bandung

Kapita Selekta jilid I. Edisi ke 3. 2001 Media Aesculapius

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetri jilid I. Edisi ke 2. Jakarta : EGC

 

PLASENTA PREVIA

 

A.    DEFINISI

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.  (FKUI, 2000)

Plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutup iostium uteri internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim. (Menurut Cunningham 2006).

Placenta Previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yakni pada segmen bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan / ostium uteri internal (OUI).

 

B.    KLASIFIKASI

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu:

  1. Plasenta previa totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta.
  2. Plasenta previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta.
  3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir   pembukaan jalan lahir.
  4. Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan jalan lahir.

 

C.    ETIOLOGI

Beberapa faktor dan etiologi dari plasenta previa tidak diketahui. Tetapi diduga hal tersebut berhubungan dengan abnormalitas dari vaskularisasi endometrium yang mungkin disebabkan oleh timbulnya parut akibat trauma operasi/infeksi. (Mochtar, 1998). Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalh vaskularisasi desidua yang tidak memadai, mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Hipoksemia akibat perdarahan berhubungan dengan adanya perkembangan segmen bawah uterus pada trimester ketiga. Plasenta yang melekat pada area ini akan rusak akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim. Kemudian perdarahan akan terjadi akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim untuk berkonstruksi secara adekuat.

Faktor risiko plasenta previa termasuk :

  • Riwayat plasenta previa sebelumnya.
  • Riwayat seksio sesarea.
  • Riwayat aborsi.
  • Kehamilan ganda.
  • Umur ibu yang telah lanjut, wanita lebih dari 35 tahun.
  • Multiparitas.
  • Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim, sehingga mempersempit permukaan bagi penempatan plasenta.
  • Adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya. Misalnya dari  indung telur setelah kehamilan sebelumnya atau endometriosis.
  • Adanya trauma selama kehamilan.
  • Sosial ekonomi rendah/gizi buruk, patofisiologi dimulai dari usia kehamilan 30 minggu segmen bawah uterus akan terbentuk dan mulai melebar serta menipis.
  • Mendapat tindakan keretase.
  • Perempuan yang suka Merokok

 

D.      PATOFISIOLOGI

Pada usia kehamilan yang lanjut , umumnya pada trimester ketiga dan mungkin juga lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plasenta akan mengalami pelepasan. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi disitu sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan dari desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu servik mendatar (effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian tapak plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi itu akan terjadi pendarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta.

Pendarahan ditempat itu relative dipermudah dan diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen otot yang dimilikinya sangat minimal, dengan akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna. Pendarahan akan berhenti karna terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang besar pada plasenta dimana pendarahan akan berlangsung lebih banyak dan lebih lama. Darah yang keluar bewarna merah segar tanpa rasa nyeri (pain-less). Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum pendarahan terjadi lebih awal dalam kehamilan oleh karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum. Sebaliknya pada plasenta previa parsialis atau letak rendah, pendarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau mulai persalinan.

Pendarahan sudah bisa terjadi pada kehamilan kurang dari 30 minggu tapi lebih separuh kejadiannya pada umur kehamilan 34 minggu keatas. Hal yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang tipis dan mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta melekat lebih kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan plasenta inkreta bahkan plasenta perkreta yang pertumbuhan vilinya bias sampai menembus ke buli-buli dan ke rektum bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan inkreta lebih sering terjadi pada uterus yang sebelumnya pernah bedah sesar. Segmen bawah rahim dan serviks yang rapuh mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang terdapat disana. Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian perdarahan pascapersalinan pada plasenta previa, misalnya dalam kala tiga karena plasenta sukar melepas dengan sempurna atau selah uri lepas karena segmen bawah rahim tidak mau berkontraksi denga baik-baik.

 

E.      GAMBARAN KLINIK

Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus keluar melalui vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan biasanya baru terjadi pada akhir trimester ketiga keatas. Perdarahan pertama berlangsung tdak banyak dan berhenti sendiri. Perdarahan kembali terjadi tanpa sesuatu sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian, jadi berulang. Pada setiap pengulangan terjadi perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti mengalir. Pada plasenta letak rendah perdarahan baru terjadi pada waktu mulai persalinan. Perdarahan bisa sedikit sampai banyak mirip pada solusio plasenta. Perdarahan diperhebat berhubung segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi sekuat segmen atas rahim. Dengan demikian, perdarahan bisa berlangsung sampai pascapersalinan. Perdarahan bisa juga bertambah disebabkan serviks dan segmen bawah rahim pada plasenta previa lebih rapuh dan mengalami robekan. Robekan lebih mudah terjadi pada upaya pengeluaran plasenta dengan tangan misalnya pada retensio plasenta sebagai komplikasi plasenta akreta.

Berhubung plasenta terletak pada bagian bawah, maka pada palpasi abdomen sering ditemui bagian terbawah janinmasih tinggi diatas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. Palpasi abdomen tidak membuat ibu hamil merasa nyeri dan perut tidak tegang.

F.      TANDA DAN GEJALA

Menururt FKUI (2000), tanda dan gejala plasenta previa diantaranya adalah :

  • Pendarahan tanpa sebab tanpa rasa nyeri dari biasanya dan berulang.
  • Darah biasanya berwarna merah segar.
  • Terjadi pada saat tidur atau saat melakukan aktivitas.
  • Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak janin.
  • Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila dilakukan periksa dalam sebelumnya. Tetapi perdarahan berikutnya (reccurent bleeding) biasanya lebih banyak.
  • Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah
  • Timbulnya perlahan-lahan
  • His biasanya tidak ada
  • Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi
  • Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
  • Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
  • Presentasi mungkin abnormal

Diagnosis plasenta previa ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinis dan beberapa pemeriksaan:

  1. Anamnesis
    Gejala pertama ialah perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (trimester III). Sifat perdarahannya tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri (painless), dan berulang (recurrent). Perdarahan timbul sekonyong-konyong tanpa sebab apapun. Kadang-kadang perdarahan terjadi sewaktu bangun tidur ; pagi hari tanpa disadari tempat tidur sudah penuh darah. Perdarahan cenderung berulang dengan volume yang lebih banyak sebelumnya.

2.        Pemeriksaan fisik

  • Pemeriksaan luar:
  1. Inspeksi (penglihatan) :

ü Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam: banyak atau sedikit, darah beku dan  sebagainya

ü Kalau telah bwrdarah banyak maka ibu kelihatan anemis (pucat)

  1. Palpasi :

ü Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah

ü Sering dijumpai kesalahan letak janin

ü Bagian terbawah janin belum turun , apabila letak kepala, biasanya kepala masih goyang atau terapung (floating) atau mengolak di atas pintu atas panggul

ü Bila cukup pengalaman, dapat dirasakan suatu bantalan pada segmen bawah rahim terutama pada ibu yang kurus.

  • Pemeriksaan dalam sangat berbahaya sehingga kontraindikasi untuk dilakukan kecuali fasilitas operasi segera tersedia.
  • Pemeriksaan dengan Alat :
  1. Pemeriksaan inspekulo, adanya darah dari ostium uteri eksernum
  2. Pemeriksaan USG :

ü Transvaginal Ultrasonografi dengan keakuratan dapat mencapai 100 % identifikasi plasenta previa

ü Transabdominal ultrasonografi dengan keakuratan berkisar 95 %

ü MRI dapat digunakan untuk membantu identifikasi plasenta akreta, inkreta, dan plasenta perkreta.

 

G.      DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding plasenta previa antara lain solusio plasenta, vasa previa, laserasi serviks atau vagina. Perdarahan karena laserasi serviks atau vagina dapat dilihat dengan inspekulo. Vasa previa, dimana tali pusat berkembang pada tempat abnormal selain di tengah plasenta, yang menyebabkan pembuluh darah fetus menyilang servix.

Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Hal ini dapat menyebabkan ruptur pembuluh darah yang mengancam janin. Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput ketuban. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan, deselerasi atau bradikardi, khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah.

 Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa ialah :

1. Seksio sesarea

  • Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan.
  • Tujuan seksio sesarea:

ü Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan.

ü Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks uteri, jika janin dilahirkan pervaginam.

  • Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisai sehingga serviks uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah robek, selain itu, bekas tempat implantasi plasenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi dan susunan serabut otot dengan korpus uteri.
  •  Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu.
  •  Lakukan perawatan lanjut pasca bedah termasuk pemantauan perdarahan, infeksi dan keseimbangan cairan masuk-keluar.

2. Melahirkan pervaginam

Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Amniotomi dan akselerasi

Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis/marginalis dengan pembukaan > 3 cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah, akselerasi dengan infuse oksitosin.

  • Versi Braxton Hicks

Tujuan melakukan versi Braxton hicks ialah mengadakan temponade plasenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup.

  • Traksi dengan Cunam Willet

Kulit kepala janin dijepit dengan cunam willet, kemudian beri beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan plasenta dan sering kali menyebabkan perdarahan pada kulit kepela. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.

 

H.      KOMPLIKASI PLASENTA PREVIA

  1. Pendarahan yang tidak dapat dicegah menyebabkan penderita menjadi anemia bahkan syok 
  2. Oleh karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat segmen ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas dengan kemampuan invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi sebab dari kejadian plasenta inkreta dan bahkan perkreta . Paling ringan adalah plasenta akreta yang per  lekatannya lebih kuat tetapi vilinya masih belum masuk kedalam miometrium. Walaupun biasanya tidak seluruh permukaan maternal plasenta mengalami akreta atau inkreta akan tetapi dengan demikian terjadi retensio plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah terlepas timbulah perdarahan dalam kala tiga.
  3. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembu uh darah sangat potensial untuk robek disertai perdarahan yang banyak. Apabila oleh salah satu sebab terjadi perdarahan banyak yang tidak terkendali dengan cara-cara yang lebih sederhana, maka pada keadaan yang sangat gawat seperti ini jalan keluarnya adalah melakukan histerektomi total.
  4. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi.
  5. Kelahiran prematur dan gawat janin sering tidak terhindarkan sebagian oleh karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan belum aterm. Pada kehamilan < 37 minggu dapat dilakukan amniosentesis untuk mengetahui kematangan paru janin dan pemberian kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru janin sebagai upaya antisipasi.
  6. Masa rawatan lama, beresiko tinggi untuk solusio plasenta, seksio sesarea, kelainan letak janin, perdarahan pascapersalinan, kematian maternal akibat perdarahan, dan disseminated intravascular coagulation (DIC).

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Sarwono, P. 2009. Ilmu Kebidanan Edisi 4. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
stasiun bidan.blogspot.com

Chalik TMA. 2008. Perdarahan pada kehamilan lanjut dan persalinan. Ilmu K ebidanan Edisi Keempat Cetakan Pertama. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

 

 

KEHAMILAN EKTOPIK

D III KEBIDANAN


1. DEFENISI

Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat. Jadi istilah ektopik dapat diartikan “berada di luar tempat yang semestinya”.

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi sipenderita (Sarwono Prawiroharjho, Ilmu Kebidanan, 2005)

Istilah kehamilan ektopik lebih tepat daripada istilah ekstrauterin yang sekarang masih juga dipakai,oleh karena terdapat beberapa jenis kehamilan ektopik yang berimplantasi dalam uterus tetapi tidak pada tempat yang normal.
(Sarwono prawirohardjo,ilmu kandungan,2005)

Kehamilan ektopik adalah terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uterik. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik karma kehamilan pada pars interstisialis tubah dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik. Apabila pada kehamilan ektopik terjadi abortus atau pecah, dalam hal ini dapat berbahaya bagi wanita hamil tersebut maka kehamilan ini disebut kehamilan ektopik terganggu.

2. INSIDEN

Kejadian hamil ektopik tidak dapat disamakan karena sangat tergantung pada perilaku dan budaya masyarakat. Pada masyarakat yang mempunyai kecenderungan untuk melakukan hubungan seksual bebas,dapat diasumsikan kejadian hamil ektopik akan makin meningkat. Kejadian infeksi hubungan seksual sangat berperan untuk terjadinya hamil ektopik ,khususnya infeksi Clhamydia trachomatis,infeksi ini akan merusak endometrium dan sel siliaris sehingga mengganggu transportasi spermatozoa,ovum,dan hasil konsepsi.          

Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi sipenderita (Sarwono Prawiroharjho, Ilmu Kebidanan, 2005)

Beberapa penulis mengemukakan kejadian hamil ektopik:

  1. Jone Derek Llewellyn (1:80-150 kehamilan)
  2. SK Resevear (2% dari kehamilan dengan umur kejadian maksimal antara 24-34 tahun)
  3. Manuaba (1:97 kehamilan dengan umur kejadian maksimal antara 26-35 tahun)

Berkaitan dengan lokasi,kehamilan ektopik dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Tuba fallopi 98%Kehamilan ektopik servikal 0,1%
    • Ampula tuba 93%
    • Isthmus tuba 4%
    • Interstisial tua 2%
  • Kehamilan ovarial 0,5%
  • Kehamilan abdominal 0,03%
  • Kehamilan interstisial 0,01%

 

3.  ETIOLOGI

Kehamilan ektopik terjadi karena hambatan pada perjalanan sel telur dari indung telur (ovarium) ke rahim (uterus). Dari beberapa studi faktor resiko yang diperkirakan sebagai penyebabnya adalah (3,4,6):

  1. Infeksi saluran telur (salpingitis),seperti bakteri khusus dapat menimbulkan gangguan pada tuba fallopi adalah Chlamydia trachomatis pada motilitas saluran telur.
  2. Riwayat operasi tuba.
  3. Cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang.
  4. Kehamilan ektopik sebelumnya.
  5. Aborsi tuba dan infeksi pemakaian IUD.
  6. Kelainan zigot, yaitu kelainan kromosom.
  7. Bekas radang pada tuba; disini radang menyebabkan perubahan-perubahan pada endosalping, sehingga walaupun fertilisasi dapat terjadi, gerakan ovum ke uterus terlambat.
  8. Operasi pada tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit
  9. Abortus buatan.
  10.  Pada hipoplasia lumen tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering di sertai gangguan fungsi silia endosalping.
  11. Tumor yang mengubah bentuk tuba dan menekan dinding tuba

 

4.  KLASIFIKASI

A. KEHAMILAN SERVIKAL

Kehamilan servikal jarang terjadi. Nidasi terjadi dalam selaput lender servik. Dengan tumbuhnya telur,servik menggembung. Pada implantasi di serviks, dapat terjadi perdarahan tanpa disertai nyeri, dan kemungkinan terjadinya abortus spontan sangat besar. Jika kehamilan tumbuh sampai besar, perdarahan / ruptur yang terjadi sangat berat, sehingga sering diperlukan tindakan histerektomi total.

B. KEHAMILAN OVARIAL

Jarang terjadi dan biasanya berakhir dengan rupture pada hamil muda. Untuk mendiagnosa kehamilan ovarial harus dipenuhi kriteria dari spiegelberg.

Kehamilan ovarial ditegakkan atas dasar kriteria Spiegelberg :

1. tuba pada sisi kehamilan harus normal

2. kantung janin harus terletak dalam ovarium

3. kantung janin dihubungkan dengan uterus oleh ligamentum ovarii proprium

4. jaringan ovarium yang nyata harus ditemukan dalam dinding kantung janin

Pada kenyataannya kriteria ini sulit dipenuhi, karena umumnya telah terjadi kerusakan jaringan ovarium, pertumbuhan trofoblas yang luas, dan perdarahan menyebabkan topografi kabur, sehingga pengenalan implantasi permukaan ovum sukar ditentukan secara pasti.

C. KEHAMILAN TUBA

Kejadian kehamilan tuba ialah 1 di antara 150 persalinan (Amerika). Kejadian dipengaruhi oleh factor social : mungkin karena pada golongan pendapatan rendah lebih sering terdapat gonorrhoe karena kemungkinan berobat kurang. Ovum yang dibuahi dapat berkembang disetiap bagian oviduktus yang menyebabkan kehamilan tuba di ampula,ismus,atau interstisium. Ampula adalah tempat tersering kehamilan tuba,sedangkan kehamilan interstisium terhitung hanya sekitar 3% dari seluruh gestasi tuba.

Menurut tempatnya nidasi dapat terjadi:

  • Kehamilan ampula (dalam ampula tuba)
  • Kehamilan isthmik (dalam isthmus tuba)
  • Kehamilan interstisil (dalam pars interstitialis tubae)
  • Kehamilan infundibulum tuba
  • Kehamilan abdomoinal primer atau sekunder

D. KEHAMILAN INTERSTISIAL

Implantasi telur terjadi dalam pars interstisialis tuba. Karena lapisan myometrium disini lebih tebal maka ruptur terjadi lebih lambat kira-kira pada bulan ke-3 atau ke-4.

Kalau terjadi ruptur maka perdarahan hebat karena tempat ini banyak pembuluh darahnya sehingga dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan kematian.

E. KEHAMILAN ABDOMINAL PRIMER

Dimana telur dari awal mengadakan implantasi dalam rongga perut dengan cirri-ciri tuba dan ovarium normal,tidak terdapat fistula utero-plasenter,dan implantasi umumnya di sekitar uterus dan CD.

F. HAMIL ABDOMINAL SEKUNDER

Yang asalnya kehamilan tuba dan setelah rupture,ekspulsi dari ostium tuba eksternumnya dan ekspulsi dari fistula utero-plasenter baru menjadi kehamilan abdominal. Biasanya plasenta terdapat pada daerah tuba,permukaan belakang rahim dan ligamentum latum. Ada kalanya hamil abdominal sekunder ini mencapai umur cukup bulan,tapi hal ini jarang terjadi,yang lazim ialah bahwa janin mati sebelum mencapai maturitas (bulan ke 5 atau ke 6) karena pengambilan makanan kurang sempurna.

Menurut lokasinya,kehamilan ektopik sebenarnya banyak klasifikasi dan dapat dibagi dalam beberapa golongan:

a)      Tuba fallopi: pars interstisialis,isthmus,ampulla,infundibulum,fimbria.

b)      Uterus: kanalis servikalis,divertikulum,koruna,tanduk rudimenter.

c)      Ovarium

d)     Intraligamenter

e)      Abdominal: primer,sekunder

f)       Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus

Namun diantara kehamilan-kehamilan ektopik,yang terbanyak ialah yang terjadi di tuba (90%) khususnya di ampula dan isthmus.


5.       KLASIFIKASI BERDASARKAN DIAGNOSIS

1)      Kehamilan ektopik belum terganggu

  1. Kehamilan ektopik belum terganggu sulit diketahui,karena biasanya penderita tidak menyampaikan keluhan yang khas.
  2. Amenorea atau gangguan haid dilaporkan oleh 75%-95% penderita. Tanda-kehamilan muda seperti nausea hanya dilaporkan oleh 10%-25% kasus.
  3. Disamping gangguan haid,keluhan yang paling sering disampaikan ialah nyeri diperut bawah yang tidak khas,walaupun kehamilan ektopik belum mengalami rupture. Kadang-kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Keadaan ini pun masih harus dipastikan dengan alat bantu diagnostik yang lain,seperti Ultrasonografi dan Laparoskopi.
  4. Bagaimana pun juga,mengingat bahwa setiap kehamilan ektopik akan berakhir dengan abortus atau rupture yang disertai perdarahan dalam rongga perut yang apabila terlambat diatasi akan membahayakan jiwa penderita,maka pada setiap wanita dengan gangguan haid dan lebih-lebih setelah diperiksa dicurigai akan adanya kehamilan ektopik ,harus ditangani dengan sungguh-sungguh dengan menggunakan alat bantu diagnostic yang ada,sampai diperoleh kepastian diagnostic kehamilan ektopik.

2)   Kehamilan ektopik terganggu

  1. Diagnosis kehamilan ektopik terganggu pada jenis mendadak(akut) biasanya tidak sulit. Keluhan yang sering disampaikan ialah haid yang terlambat untuk beberapa waktu atau terjadi gangguan siklus haid disertai nyeri perut bagian bawah dan penesmus. Dapat terjadi perdarahan pervaginam.
  2. Yang menonjol ialah penderita tampak kesakitan,pucat,dan pada pemeriksaan ditemukan tanda-tanda syok serta perdarahan dalam rongga perut. Pada pemeriksaan ginekologik ditemukan servik yang nyeri bila digerakkan dan kavum douglas yang menonjol dan nyeri raba.
  3. Kesulitan diagnosis biasanya terjadi pada kehamilan ektopik terganggu jenis apitik atau menahun. Kelambatan haid tidak jelas,tanda dan gejala kehamilan muda tidak jelas,demikian pula nyeri perut tidak nyata dan sering penderita tampak tidak terlalu pucat. Hal ini dapat terjadi apabila perdarahan pada kehamilan ektopik yang terganggu berlangsung lambat. Dalam keadaan demikian,alat bantu diagnostik amat diperlukan untuk memastikan diagnosis.

3)      Kehamilan ektopik lanjut

Yaitu kehamilan ektopik diman janin dapat tumbuh terus karena mendapat cukup zat-zat makanan dan oksigen dari plasenta yang meluaskan implantasinya ke jaringan sekitarnya,misalnya ligamentum latum,uterus,dasar panggul,usu,dan sebagainya.

6.       TANDA DAN GEJALA

  1. Ada riwayat terlambat haid atau amenorrhea dan gejala kehamilan muda.
  2. Perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas sehingga sukar membuat diagnosisnya
  3. Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopi terganggu. Nyeri perut bagian bawah, pada ruptur tuba nyeri terjadi tiba-tiba dan hebat, menyebabkan penderita pingsan sampai shock.
  4. Perdarahan pervaginam berwarna cokelat tua
  5. Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digerakkan, nyeri pada perabaan dan kavum douglasi menonjol karena ada bekuan darah
  6. Keadaan umum ibu dapat baik sampai buruk / syok, tergantung beratnya perdarahan yang terjadi.
  7. Level HCG rendah
  8. Pembesaran uterus: pada kehamilan ektopik uterus membesar.
  9. Gangguan kencing: kadang-kadang terdapat gejala besar kencing karena perangsangan peritonium oleh darah di dalam rongga perut

7.       PATOFISIOLOGI

Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri. Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa kemungkinan akibat dari hal ini yaitu :

  1. Kemungkinan “tubal abortion”, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke ujung distal (fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan ampulla, darah yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak begitu banyak karena dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.
  2. Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai akibat dari distensi berlebihan tuba dan faktor utama yang menyebabkan rupture ialah penembusan villi koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke perineum.
    Rupture dapat terjadi secara spontan atau karena trauma ringan seperti coitus dan pemeriksaan vaginal.
  3. Faktor abortus ke dalam lumen tuba. Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma koitus dan pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit hingga banyak, sampai menimbulkan syok dan kematian.
  1. Karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil kosepsi tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus.sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6-10 minggu.
  2. Hasil kosepsi mati dan diresorbsi pada implantasi secara kolumner,ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi kurang dan dengan mudah terjadi resorbsi total.dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh apa-apa hanya haidnya terlambat untuk beberapa hari.
  3. Factor lain, seperti Migrasi luar ovum yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya dapat memperpanjang perjalan telur yang dibuahi ke uterus pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature.

 

8.   DIAGNOSA

Walaupun diagnosanya agak sulit dilakukan, namun beberapa cara ditegakkan, antara lain dengan inspeksi,palpasi.

a)      Anamnesis dan gejala klinis

Riwayat terlambat haid, gejala dan tanda kehamilan muda, dapat ada atau tidak ada perdarahan per vaginam, ada nyeri perut kanan / kiri bawah. Berat atau ringannya nyeri tergantung pada banyaknya darah yang terkumpul dalam peritoneum.

b)      Pemeriksaan umum : keadaan umum dan tanda vital dapat baik sampai buruk. Penderita tampak kesakitan dan pucat: Pada jenis tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan pemeriksaan fisis

c)       Didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor di daerah adneksa.

d)     Adanya tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat dan ekstremitas dingin, adanya tanda-tanda abdomen akut, yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen.

e)      Pemeriksaan ginekologis : perdarahan dalam rongga perut tanda syok dapat di temukan. Tanda kehamilan muda mungkin ditemukan, pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan,seviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan kiri.

f)       Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan laparotomi

g)      Pemeriksaan Penunjang

  • Pemeriksaan laboratorium

Hb, Leukosit, urine B-hCG (+). Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat meningkat. Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakan diagnosis kehamilan ektopik terganggu terutama ada tanda perdarahan dalam rongga perut.

  • Pemeriksaan kuldosentesis

Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah, cara ini amat berguna dalam membantu diagnosis kehamilan ektopik terganggu.

  • Pemeriksaan ultra sonografi

Pemeriksaan ini berguna dalam diagnostic kehamilan ektopik. Diagnosis pastinya ialah apa bila ditemukan kantong gestasi diluar uterus yang didalam nya tampak denyut jantung janin. Dan dapat dinilai kavum uteri,kosong atau berisi. Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri,adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri,adanya massa komplek di rongga panggul.

  • Pemeriksaan laparoskopi

Digunakan sebagai alat Bantu diagnostic terakhir untuk kehamilan ektopik. Pada pemeriksaan ini dapat dilihat dengan mata sendiri perubahan-perubahan pada tuba.

9.  PENANGANAN

Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pada laparotomi perdarahan selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang menjadi sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dalam rongga perut sebanyak mungkin dikeluarkan. Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu: kondisi penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik. Hasil ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan bagian tuba yang terganggu) pada kehamilan tuba. Dilakukan pemantauan terhadap kadar HCG (kuantitatif). Peninggian kadar HCG yang berlangsung terus menandakan masih adanya jaringan ektopik yang belum terangkat.

Penanganan pada kehamilan ektopik dapat pula dengan transfusi, infus, oksigen, atau kalau dicurigai ada infeksi diberikan juga antibiotika dan antiinflamasi. Sisa-sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat dan harus dirawat inap di rumah sakit.

  1. Setelah diagnosis ditegakan, segera lakukan persiapan untuk tindakan operatif laparatomi
  2. Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk melakukan tindakan operatif karena sumber perdarahan harus dihentikan.
  3. Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau RL (500 ml dalam lima menit pertama) atau 2l dalam dua jam pertama (termasuk selama tindakan berlangsung)
  4. Pastikan darah yang dihisap dari rongga obdomen telah melalui alat pengisap dan wadah penampung yang steril
  5. Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan masukan kedalam kantung darah (blood bag) apabila kantung darah tidak tersedia masukan dalam botol bekas cairan infus (yang baru terpakai dan bersih) dengan diberikan larutan sodium sitrat 10ml untuk setiap 90ml darah.
  6. Transfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan pada bagian tabung tetesan.
  7. Tindakan dapat berupa :
  • Parsial salpingektomi yaitu melakukan eksisi bagian tuba yang mengandung hasil konsepsi.
  • Salpingostomi (hanya dilakukan sebagai upaya konservasi dimana tuba tersebut merupakan salah satu yang masih ada) yaitu mengeluarkan hasil konsepsi pada satu segmen tuba kemudian diikuti dengan reparasi bagian tersebut. Resiko tindakan ini adalah kontrol perdarahan yang kurang sempurna atau rekurensi (hasil ektopik ulangan).
  1. Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan fungsi transportasi tuba yang di sebabkan oleh proses infeksi maka sebaiknya pasien di beri anti biotik kombinasi atau tunggal dengan spektrum yang luas.
  2. Untuk kendali nyeri pasca tindakan dapat diberikan:
  • Ketoprofen 100 mg supositoria.
  • Tramadol 200 mg IV.
  • Pethidin 50 mg IV (siapkan anti dotum terhadap reaksi hipersensitivitas)
  • Atasi anemia dengan tablet besi (SF) 600 mg per hari.

Konseling pasca tindakan

  • lanjutan fungsi reproduksi.
  • Resiko hamil ektopik ulangan.
  • Kontrasepsi yang sesuai.
  • Asuhan mandiri selama dirumah.
  • Jadwal kunjungan ulang

Criteria khus


us yang diobati dengan cara ini adalah :

  • Kehamilan di pars ampullaris tuba belum pecah
  • Diameter kantong gestasi ≤ 4cm
  • Perdarahan dalam rongga perut kurang dari 100 ml
  • Tanda vital baik dan stabil

 

REFERENSI

Obstetric Williams panduan ringkas /Kenneth J.levenu……(etal);alih bahasa,Brahm U.pendit editor edisi bahasa Indonesia,Egi komara Yudha,Nike Budhi Subeccti Ed.21-Jakarta :EGC.2009.
Ilmu kebidanan,penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan /ida Bagus Gde Manuaba –jakarta EGC,1998.
Ilmu bedah kebidanan /editor kedua ,Hanifa wikrijosastro editor,Abdul Bari Saifuddin,Trijatmo Rachimhadhi…Ed.1.cet…Jakarta: yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo,2000.
Obtetri patologi,bagian obstetric & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung.
Pengantar kuliah obtetri/penulis,Ida Bagus Gde Manuaba,Ida Ayu Chandranita Manuaba,Ida Bagus Fajar Manuaba.-Jakarta:EGC,2007.
Ilmu Kandungan/editor ketua, Hanifa Winkjosastro
Editor,Abdul Bari Saifuddin,Trijatmo Rachimhadhi.
…Ed.2,Cet.7,…Jakarta: PT Bina Pustaka SarwonoPrawirohardjo,2009

catatan kuliah lenteraimpian

1.       Kekerasan terhadap perempuan

Adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ranah publik atau dalam kehidupan pribadi.

KUHP  :

  • Pasal 89-90          : kekerasan dan luka berat
  • Pasal 351-356     : penganiayaan
  • Pasal 285-301     : kejahatan susila
  • Pasal 338-340     : pembunuhan
  • Pasal 324-337     : penghilangan kemerdekaan
  • Pasal 310-321     : penistaan
  • Pada umumnya tidak membedakan korban laki-laki dan perempuan kecuali pada kejahatan susila

BENTUK-BENTUK KEKERASAN

  • Fisik
  • Psikologis
  • Seksual
  • finansial

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

1). FAKTOR MASYARAKAT

  • kemiskinan
  • urbanisasi
  • keluarga ketergantungan obat
  • lingkungan kekerasan dan kriminalitas

2). FAKTOR KELUARGA

  • keluarga yang sakit kelainan mental
  • keluarga yang kacau dan tidak bahagia
  • keluarga yang kurang akrab

3). FAKTOR INDIVIDU

  • wanita single, bercerai/ingin bercerai
  • berumur 17-28 tahun
  • ketergantungan obat
  • wanita hamil
  • pasangan yang cemburu berlebihan

PENATALAKSANAAN

Rehabilitasi :

  • fisik
  • psikologis

Lihat pos aslinya 857 kata lagi

MASTITIS

 

MASTITIS

1. Definisi Mastitis

Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

Nifas dibagi dalam 3 periode :

  1. Puerperium dini yaitu kepulihan ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
  2. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu.
  3. Remote Puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

Pada waktu nifas sering muncul banyak masalah salah satunya masalah dalam menyusui yaitu mastitis. Mastitis adalah peradangan pada payudara (abses payudara). Payudara menjadi merah, bengkak, kadang kala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Didalam terasa ada masa padat (lump) dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini diebabkan kurangnya ASI diisap/ dikeluarkan atau penghisapan yang tak efektif. Dapat juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju/ BH.

2.      Macam-macam Mastitis

Mastitis terbagi atas 3 yaitu  mastitis periductal, mastitis pueperalis, dan mastitis supurativa. Ketiga jenis mastitis ini terjadi akibat penyebab yang berbeda dan kondisi yang juga berbeda.

Mastitis periductal

Biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause (wanita di atas 45 tahun), penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Di duga akibat perubahan hormonal dan aktivitas menyusui di masa lalu. Pada saat menjelang menopause terjadi penurunun hormon estrogen yang menyebabkan adanya jaringan yang mati. Tumpukan jaringan mati dan air susu menyebabkan penyumbatan pada saluran di payudara. Penyumbatan menyebabkan buntunya saluran dan akhirnya melebarkan saluran di belakangnya, yang biasanya terletak di belakang puting payudara. Hasil akhirnya ialah reaksi peradangan yang disebut mastitis periductal.

Mastitis puerperalis

Disebabkan karena infeksi pada jaringan payudara. Mastitis ini terjadi pada wanita yang sedang menyusui karena adanya perpindahan kuman dari mulut bayi atau mulut dari suaminya. Hal itu disebabkan karena kesehatan mulut rendah seperti mulut orang yang suka merokok. Kuman yang paling banyak menyebabkan mastitis puerperalis adalah Staphylococcus aureus. Selain  itu kuman dapat masuk ke payudara karena suntik silikon atau injeksi kolagen sehingga menyebabkan peradangan.

Mastitis supurativa

Mastitis jenis ini ialah yang paling sering ditemui. Mirip dengan jenis sebelumnya, mastitis jenis ini juga disebabkan kuman staphylococcus. Selain itu bisa juga disebabkan oleh jamur, kuman TBC, bahkan sifilis.

3.      Penyebab Mastitis

Mastitis biasanya disebabkan karena adanya milk stasis, yaitu dimana ASI masuk kedalam jaringan payudara karena tidak dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi ketika bayi tidak mengosongkan ASI ketika meyusui, yang dapat disebabkan karena proses menyusui yang kurang tepat.

Selain hal tersebut, ada juga beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya mastitis seperti :

  • Ukuran payudara yang bertambah besar & tidak kembali ke ukuran normal.
  • Jadwal menyusui yang terlalu ketat.
  • Adanya luka pada payudara.

Kadangkala, mastitis dapat memburuk & menjadi infective mastitis. Hal ini dapat terjadi apabila mempunyai puting payudara yang luka/retak, sehingga infeksi dapat masuk kedalam jaringan lymphatic system didalam payudara.

Penyebab lain dari mastitis,yaitu:

  • Bayi tidak mau menyusu sehingga ASI tidak diberikan secara adekuat yang akan menyebabkan mastitis jika tidak segera ditangani
  • Lecet pada puting susu yang menyebabkan kuman staphylococcus aureus masuk menyebabkan infeksi mastitis
  • Personal higiene ibu kurang, terutama pada puting susu
  • Bendungan air susu yang tidak adekuat di tangani sehingga menyebabkan mastitis.

 

4.      Tanda dan Gejala Mastitis

Berikut adalah gejala mastitis:

  • Payudara berwarna kemerahan.
  • Payudara terasa keras.
  • Nyeri atau sakit pada payudara.
  • Payudara terasa panas.
  • Bengkak pada payudara.

Dapat juga terasa seperti adanya gumpalan pada payudara, yang sering disebut sebagai kelenjar susu yang tersumbat. Tetapi hal tersebut bukan karena adanya sumbatan, tetapi karena ada ASI yang masuk kedalam jaringan payudara, bukannya ke dalam kelenjar susu.

Selain gejala tersebut diatas, biasanya wanita yang mengalami mastitis juga akan merasakan :

  • Kedinginan.
  • Sakit kepala.
  • Suhu tubuh > 38,5°C.
  • Mudah lelah.

 

5.      Penanganan Mastitis

Mengalami mastitis dapat menyiksa, tetapi dengan istirahat yang cukup & penanganan yang tepat, hal tersebut dapat segera diatasi. Sayangnya, mastitis dapat dialami oleh ibu menyusui lebih dari sekali, meskipun jarang terjadi untuk dialami oleh kedua payudara secara bersamaan.

Berikut adalalah penanganan mastitis :

  • Antibiotik dapat mengatasi mastitis. Jika dokter meresepkan antibiotik, minumlah sesuai anjuran, jangan dihentikan hanya karena merasa sudah lebih baik. Antibiotik yang dipilih tidak akan merugikan sang bayi.
  • Untuk membuat lebih baik, sebaiknya istirahat yang cukup, minum banyak cairan & gunakan kompres hangat atau dingin pada payudara yang sakit.
  • Sebelum menyusui sang bayi, kompreskan handuk hangat pada payudara yang mengalami mastitis selama 15 menit. Lakukan ini setidaknya 3 kali sehari karena hal tersebut dapat melancarkan aliran ASI didalam payudara. Melakukan pemijatan pada payudara yang mengalami mastitis juga dapat melancarkan aliran ASI.
  • Untuk meredakan rasa nyeri dapat mengkonsumsi parasetamol, serta ibuprofen untuk mengurangi peradangan pada payudara.
  • Payudara yang mengalami mastitis, masih aman untuk memberikan ASI kepada sang bayi & hal tersebut juga dapat membantu meredakan mastitis. Jika menyusui dengan payudara yang mengalami mastitis dirasakan terlalu menyakitkan, maka bisa didahulu oleh payudara yang sehat. Kemudian ketika ASI sudah mengalir, maka bisa dilakukan dengan payudara yang mengalami mastitis. Jika puting payudara luka atau lecet, sehingga tidak bisa untuk menyusui, gunakanlah pompa susu untuk memompa ASI dari payudara tersebut.

Bila mengalami mastitis, sebaiknya segera ditangani. Menunda penanganan mastitis dapat menyebabkan terjadinya abses pada payudara, yang lebih sulit untuk ditangani. Mastitis yang parah dengan gejala seperti demam yang tak kunjung reda atau malah meninggi dan bahkan mencapai 40oC, serta payudara semakin terasa nyeri dan terjadi perubahan warna dari kecokelatan menjadi kemerahan, perlu dikonsultasikan pada dokter atau klinik laktasi. Infeksi yang tidak ditangani bisa memperburuk kondisi ibu karena kuman pada kelenjar susu akan menyebar ke seluruh tubuh, kemudian timbul abses (luka bernanah).

6.      Pencegahan Mastitis

Adapun pencegahan yang dapat dilakukan pada ibu nifas dengan masalah mastitis,adalah:

  • Perawatan payudara
  • Menjaga payudara tetap bersih dan kering.
  • Menggunakan BH yang menyokong payudara
  • Apabila puting susu lecet dioleskan kolestrum atau ASI yang keluar daripada sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui.
  • Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam.
  • Untuk menghilangkan nyeri dapat minum parasetamol 1 tablet sekitar 4-6 jam.
  • Apabila payudara bengkak akibat penggunaan ASI, dilakukan :
  • Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.
  • Urut payudara dari arah pangkal menuju puting.
  • Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting sisi menjadi lunak
  • Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluarkan dengan tangan.
  • Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
  • Payudara dikeringkan.

 

Cara Melakukan Post Natal Breast Care

  1. Siapkan alat
    1. Minyak atau baby oil
    2. Waslap 2 buah
    3. Air hangat
    4. Baskom
    5. Cuci tangan
    6. Melakukan pengurutan pada payudara ibu masing-masing 30 x selama 5 menit
      Cara :

a. Pengurutan payudara (melingkar)

Kedua telapak tangan dari tempatkan diantara kedua payudara ke arah atas. Samping ke bawah dan melintang, sehingga tangan menyangga payudara

b. Pengurutan payudara (pangkal payudara

2. Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan kanan saling di rapatkan
3. Sisi kelingkin tangan kanan mengurut payudara kiri dan pangkal payudara, demikian payudara kanan.
4. Pengurutan payudara dengan menggunakan air hangat dan dingin kompres payudara dengan air hangat terlebih dahulu kemudian air hangat selama 5 menit.

 

Posisi Menyusui Yang Benar
  4.   Cuci tangan

 Posisi bayi saat menyusui sangat menentukan kebersihan pemberian ASI dan mencegah lecet punting susu, pastikan ibu memeluk bayinya dengan benar berikan bantuan dan dukungan jika ibu memerlukannya. Terutama jika ibu pertama kali menyusui atau ibu berusia sangat muda.

Posisi menyusui yang benar :

  • Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus) muka bayi menghadap ke payudara ibu. Hidung bayi didepan putting susu ibu, posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi ketubuh ibunya.
  • Ibu mendekatkan bayi ketuban ibunya (maka bayi kepayudara ibu) dan mengamati bayi siap menyusu, membuka mulut, bergerak mencari dan menoleh.
  • Ibu menyentuhkan putting susu kebibir bayi, menunggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke putting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap putting susu sendiri.

Tanda-tanda posisi bayi menyusu dengan baik :

  • Dagu menyentuh payudara ibu
  • Mulut terbuka lebar
  • Hidung bayi mendekati dan kadang-kadang menyentuh payudara ibu
  • Mulut bayi mencakup sebanyak mungki areola (tidak hanya putting saja). Lingkar areola atas terlihat lebih banyak dibandingkan lingkar areola bawah.
  • Lidah bayi menopang putting dan areola bagian bawah
  • Bibir bawah bayi melengkung keluar
  • Bayi menghisap kuat dan dalam secara perlahan dan kadang-kadang disertai berhenti sesaat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ambarwati.2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Program Manajemen Laktasi. 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta.

Saleha.2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.

Suherni.2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.

 

Awan Tag