Hello…This's Mutiara Oktavianti

MASTITIS

 

MASTITIS

1. Definisi Mastitis

Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

Nifas dibagi dalam 3 periode :

  1. Puerperium dini yaitu kepulihan ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
  2. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu.
  3. Remote Puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

Pada waktu nifas sering muncul banyak masalah salah satunya masalah dalam menyusui yaitu mastitis. Mastitis adalah peradangan pada payudara (abses payudara). Payudara menjadi merah, bengkak, kadang kala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Didalam terasa ada masa padat (lump) dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini diebabkan kurangnya ASI diisap/ dikeluarkan atau penghisapan yang tak efektif. Dapat juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju/ BH.

2.      Macam-macam Mastitis

Mastitis terbagi atas 3 yaitu  mastitis periductal, mastitis pueperalis, dan mastitis supurativa. Ketiga jenis mastitis ini terjadi akibat penyebab yang berbeda dan kondisi yang juga berbeda.

Mastitis periductal

Biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause (wanita di atas 45 tahun), penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Di duga akibat perubahan hormonal dan aktivitas menyusui di masa lalu. Pada saat menjelang menopause terjadi penurunun hormon estrogen yang menyebabkan adanya jaringan yang mati. Tumpukan jaringan mati dan air susu menyebabkan penyumbatan pada saluran di payudara. Penyumbatan menyebabkan buntunya saluran dan akhirnya melebarkan saluran di belakangnya, yang biasanya terletak di belakang puting payudara. Hasil akhirnya ialah reaksi peradangan yang disebut mastitis periductal.

Mastitis puerperalis

Disebabkan karena infeksi pada jaringan payudara. Mastitis ini terjadi pada wanita yang sedang menyusui karena adanya perpindahan kuman dari mulut bayi atau mulut dari suaminya. Hal itu disebabkan karena kesehatan mulut rendah seperti mulut orang yang suka merokok. Kuman yang paling banyak menyebabkan mastitis puerperalis adalah Staphylococcus aureus. Selain  itu kuman dapat masuk ke payudara karena suntik silikon atau injeksi kolagen sehingga menyebabkan peradangan.

Mastitis supurativa

Mastitis jenis ini ialah yang paling sering ditemui. Mirip dengan jenis sebelumnya, mastitis jenis ini juga disebabkan kuman staphylococcus. Selain itu bisa juga disebabkan oleh jamur, kuman TBC, bahkan sifilis.

3.      Penyebab Mastitis

Mastitis biasanya disebabkan karena adanya milk stasis, yaitu dimana ASI masuk kedalam jaringan payudara karena tidak dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi ketika bayi tidak mengosongkan ASI ketika meyusui, yang dapat disebabkan karena proses menyusui yang kurang tepat.

Selain hal tersebut, ada juga beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya mastitis seperti :

  • Ukuran payudara yang bertambah besar & tidak kembali ke ukuran normal.
  • Jadwal menyusui yang terlalu ketat.
  • Adanya luka pada payudara.

Kadangkala, mastitis dapat memburuk & menjadi infective mastitis. Hal ini dapat terjadi apabila mempunyai puting payudara yang luka/retak, sehingga infeksi dapat masuk kedalam jaringan lymphatic system didalam payudara.

Penyebab lain dari mastitis,yaitu:

  • Bayi tidak mau menyusu sehingga ASI tidak diberikan secara adekuat yang akan menyebabkan mastitis jika tidak segera ditangani
  • Lecet pada puting susu yang menyebabkan kuman staphylococcus aureus masuk menyebabkan infeksi mastitis
  • Personal higiene ibu kurang, terutama pada puting susu
  • Bendungan air susu yang tidak adekuat di tangani sehingga menyebabkan mastitis.

 

4.      Tanda dan Gejala Mastitis

Berikut adalah gejala mastitis:

  • Payudara berwarna kemerahan.
  • Payudara terasa keras.
  • Nyeri atau sakit pada payudara.
  • Payudara terasa panas.
  • Bengkak pada payudara.

Dapat juga terasa seperti adanya gumpalan pada payudara, yang sering disebut sebagai kelenjar susu yang tersumbat. Tetapi hal tersebut bukan karena adanya sumbatan, tetapi karena ada ASI yang masuk kedalam jaringan payudara, bukannya ke dalam kelenjar susu.

Selain gejala tersebut diatas, biasanya wanita yang mengalami mastitis juga akan merasakan :

  • Kedinginan.
  • Sakit kepala.
  • Suhu tubuh > 38,5°C.
  • Mudah lelah.

 

5.      Penanganan Mastitis

Mengalami mastitis dapat menyiksa, tetapi dengan istirahat yang cukup & penanganan yang tepat, hal tersebut dapat segera diatasi. Sayangnya, mastitis dapat dialami oleh ibu menyusui lebih dari sekali, meskipun jarang terjadi untuk dialami oleh kedua payudara secara bersamaan.

Berikut adalalah penanganan mastitis :

  • Antibiotik dapat mengatasi mastitis. Jika dokter meresepkan antibiotik, minumlah sesuai anjuran, jangan dihentikan hanya karena merasa sudah lebih baik. Antibiotik yang dipilih tidak akan merugikan sang bayi.
  • Untuk membuat lebih baik, sebaiknya istirahat yang cukup, minum banyak cairan & gunakan kompres hangat atau dingin pada payudara yang sakit.
  • Sebelum menyusui sang bayi, kompreskan handuk hangat pada payudara yang mengalami mastitis selama 15 menit. Lakukan ini setidaknya 3 kali sehari karena hal tersebut dapat melancarkan aliran ASI didalam payudara. Melakukan pemijatan pada payudara yang mengalami mastitis juga dapat melancarkan aliran ASI.
  • Untuk meredakan rasa nyeri dapat mengkonsumsi parasetamol, serta ibuprofen untuk mengurangi peradangan pada payudara.
  • Payudara yang mengalami mastitis, masih aman untuk memberikan ASI kepada sang bayi & hal tersebut juga dapat membantu meredakan mastitis. Jika menyusui dengan payudara yang mengalami mastitis dirasakan terlalu menyakitkan, maka bisa didahulu oleh payudara yang sehat. Kemudian ketika ASI sudah mengalir, maka bisa dilakukan dengan payudara yang mengalami mastitis. Jika puting payudara luka atau lecet, sehingga tidak bisa untuk menyusui, gunakanlah pompa susu untuk memompa ASI dari payudara tersebut.

Bila mengalami mastitis, sebaiknya segera ditangani. Menunda penanganan mastitis dapat menyebabkan terjadinya abses pada payudara, yang lebih sulit untuk ditangani. Mastitis yang parah dengan gejala seperti demam yang tak kunjung reda atau malah meninggi dan bahkan mencapai 40oC, serta payudara semakin terasa nyeri dan terjadi perubahan warna dari kecokelatan menjadi kemerahan, perlu dikonsultasikan pada dokter atau klinik laktasi. Infeksi yang tidak ditangani bisa memperburuk kondisi ibu karena kuman pada kelenjar susu akan menyebar ke seluruh tubuh, kemudian timbul abses (luka bernanah).

6.      Pencegahan Mastitis

Adapun pencegahan yang dapat dilakukan pada ibu nifas dengan masalah mastitis,adalah:

  • Perawatan payudara
  • Menjaga payudara tetap bersih dan kering.
  • Menggunakan BH yang menyokong payudara
  • Apabila puting susu lecet dioleskan kolestrum atau ASI yang keluar daripada sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui.
  • Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam.
  • Untuk menghilangkan nyeri dapat minum parasetamol 1 tablet sekitar 4-6 jam.
  • Apabila payudara bengkak akibat penggunaan ASI, dilakukan :
  • Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.
  • Urut payudara dari arah pangkal menuju puting.
  • Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting sisi menjadi lunak
  • Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluarkan dengan tangan.
  • Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
  • Payudara dikeringkan.

 

Cara Melakukan Post Natal Breast Care

  1. Siapkan alat
    1. Minyak atau baby oil
    2. Waslap 2 buah
    3. Air hangat
    4. Baskom
    5. Cuci tangan
    6. Melakukan pengurutan pada payudara ibu masing-masing 30 x selama 5 menit
      Cara :

a. Pengurutan payudara (melingkar)

Kedua telapak tangan dari tempatkan diantara kedua payudara ke arah atas. Samping ke bawah dan melintang, sehingga tangan menyangga payudara

b. Pengurutan payudara (pangkal payudara

2. Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan kanan saling di rapatkan
3. Sisi kelingkin tangan kanan mengurut payudara kiri dan pangkal payudara, demikian payudara kanan.
4. Pengurutan payudara dengan menggunakan air hangat dan dingin kompres payudara dengan air hangat terlebih dahulu kemudian air hangat selama 5 menit.

 

Posisi Menyusui Yang Benar
  4.   Cuci tangan

 Posisi bayi saat menyusui sangat menentukan kebersihan pemberian ASI dan mencegah lecet punting susu, pastikan ibu memeluk bayinya dengan benar berikan bantuan dan dukungan jika ibu memerlukannya. Terutama jika ibu pertama kali menyusui atau ibu berusia sangat muda.

Posisi menyusui yang benar :

  • Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus) muka bayi menghadap ke payudara ibu. Hidung bayi didepan putting susu ibu, posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi ketubuh ibunya.
  • Ibu mendekatkan bayi ketuban ibunya (maka bayi kepayudara ibu) dan mengamati bayi siap menyusu, membuka mulut, bergerak mencari dan menoleh.
  • Ibu menyentuhkan putting susu kebibir bayi, menunggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke putting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap putting susu sendiri.

Tanda-tanda posisi bayi menyusu dengan baik :

  • Dagu menyentuh payudara ibu
  • Mulut terbuka lebar
  • Hidung bayi mendekati dan kadang-kadang menyentuh payudara ibu
  • Mulut bayi mencakup sebanyak mungki areola (tidak hanya putting saja). Lingkar areola atas terlihat lebih banyak dibandingkan lingkar areola bawah.
  • Lidah bayi menopang putting dan areola bagian bawah
  • Bibir bawah bayi melengkung keluar
  • Bayi menghisap kuat dan dalam secara perlahan dan kadang-kadang disertai berhenti sesaat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ambarwati.2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Program Manajemen Laktasi. 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta.

Saleha.2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.

Suherni.2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: