Hello…This's Mutiara Oktavianti

KEHAMILAN POST TERM

KEHAMILAN POST-TERM

 

 1.     Defenisi

Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007).

Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007).

Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari (Prawirohardjo, 2008).

2.     Insiden

Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan lewat waktu mencapai 5 -7 %. Variasi insiden postterm berkisar antara 2-31,37%.

3.     Etiologi

Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya (Ilmu Kebidanan, 2008) faktor penyebab kehamilan postterm adalah :

  • Pengaruh Progesteron

Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan dan persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron.

  • Teori Oksitosin

Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya.

  • Teori Kortisol/ACTH janin

Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “pemberi tanda” untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anansefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.

  • Saraf Uterus

Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebabnya.

  • Heriditer

Beberapa penulis menyatakan bahwa seseorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seseorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan anak perempuannya mengalami kehamilan postterm.

 4.     Tanda Bayi Postmatur

Tanda postmatur dapat di bagi dalam 3 stadium (Prawirohardjo, 2008) :

  • Stadium I

Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas.

  • Stadium II

keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.

  • Stadium III

Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat.Pada saat persalinan, penting dinilai keadaan cairan ketuban. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman, begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.

Menurut Manuaba 2007, tanda bayi postmatur adalah:

  • Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram).
  • Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur.
  • Rambut lanugo hilang atau sangat kurang.
  • Verniks kaseosa di badan berkurang.
  • Kuku-kuku panjang.
  • Rambut kepala agak tebal.
  • Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel.

 5.     Patofisiologi

  • Sindrom posmatur

Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput, mengelupas lebar-lebar, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki. Kuku biaanya cukup panjang. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya.banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak.

Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41, 42, dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas.

  • Disfungsi plasenta

Kadar eritroprotein plasma  tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini, bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm.

Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. Memang, pertumbuhan janin yang berlanjut, meskipun kecepatannya lebih lambat, adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu.

  • Gawat janin dan Oligohidramnion

Alasan utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil, diukur dengan USG, bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum, terutama bila disertai dengan ologohidramnion.

Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu, mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium.

  • Pertumbuhan janin terhambat

Hingga kini, makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. Divon dkk,. (1998) dan Clausson., (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700.000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih, demikian juga untuk bayi lahir aterm.

Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan. Memang, seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini.

  • Serviks yang tidak baik

Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. Dilatasi serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan.

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN VARNEY

 1.     Pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data sehingga dapat diketahui masalah dana keadaan klien. Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

Data-data yang dikumpulkan yaitu:

1)      Data Subjektif

  • Identitas ibu dan suami

Yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat.

Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi.

  • Keluhan utama

Merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan dan apa-apa saja yang dirasakan klien.

 Kemungkinan yang ditemui pada kasus persalinan postterm ini adalah ibu mengeluhkan bahwa kehamilannya telah lewat dari taksiran persalinannya, tiadk datang haid lebih dari 10 bulan, dan gerakan janin berkurang dari biasanya.

  • Riwayat Perkawinan

Kemungkinan diketahui status perkawinan, umur waktu kawin, berapa lama kawin baru hamil. Yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko.

  • Riwayat menstruasi

Yang dikaji adalah HPHT,menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis persalinan post term dari siklus haidnya .

  • Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Yang dikaji adalah fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau apakah ibu ada mempunyai riwayat persalinan postterm, jenis persalinan yang bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak sekarang.

  • Riwayat kehamilan sekarang

Yang dikaji yaitu riwayat hamil muda dan tua, frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan muda maupun tua yang pernah dialami. Kemungkinan kapan merasakan gerakan janin pertama kali. Kemingkinan apakah ada pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesahatan, mendapatkan imunisasi TT, dan teblet Fe, Kemingkinan adanya tanda-tanda persalinan: keluarnya blood slem, keluar air-air, nyeri pinggang menjalar ari-ari.

  • Riwayat Kesehatan

Yang dikaji adalah apakah ibu ada menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa.

  • Riwayat kesehatan keluarga

Yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, riwayat keturunan kembar atau riwayat kehamilan postterm yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit tersebut.

  • Riwayat kontrasepsi

Kemungkinan ibu pernah menggunakan alat –alat kontrasepsi atau tidak.

  • Riwayat seksualitas

Yang dikaji apakah aktifitasnya normal atau ada gangguan.

  • Riwayat Sosial, ekonomi, dan budaya

Yang dikaji hubungan klien dengan suami, keluarga, dan masyarakat baik. Kemungkinan ekonomi yang kurang mencukupi, adanya kebudayaan klien yang mempengaruhi kesehatan kehamilan dan persalinannya.

  • Riwayat spiritual

Yang dikaji apakah klien masih dapat melakukan ibadah agama dan kepercayaannya dengan baik.

  • Riwayat psikologis

Yang dikaji apa tanggapan klien dan keluarga yang baik terhadap kehamilan dan persalinan ini. Kemungkinan klien dan suaminya mengharapkan dan senang dengan kehamilan ini. Atau kemungkinan klien cemas dan gelisah dengan kehamilannya.

  • Kebutuhan dasar

Kemungkinan pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan.BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses persalinan berlangsung.

2)      Data Objektif

Data dikumpulkan melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus.

  • Pemeriksaan umum

Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui keadaan gizi pasien.

  1. Pemeriksaan khusus
    1. Inspeksi
      Yaitu periksa pandang yang dimulai dari kepala hingga kaki. Yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan ekstremitas atas maupun bawah serta HIS.
    2. Palpasi
      Dengan menggunakan cara leopold:

Leopold I :

Untuk menentukan TFU (tidak sesuai dengan TFU normal, > TFU normal) dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin.

 Leopold II:

Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala.

Leopold III:

Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala.

Leopold IV:

Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP.

  • Auskultasi

Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur.

  • Perkusi

Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat.

  • Penghitungan TBBJ

Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm – 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi.

  • Pemeriksaan Panggul

Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi, adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul (bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica, coksigis dan arcus pubis > 900).

  • Pemeriksaan Penunjang

Kadar lesitin/spinngomielin

Bila lesitin/spinngomielin dalam cairan amniom kadarnya sama, maka umur kehamilan sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin: 28-32 minggu, pada kehamilan genap bulan rasio menjadi 2:1 . Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm, tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakah janin cukup umur/matang untuk dilahirkan yang berkaitan dengan mencegah kesalahan dalam tindakan pengakhiran kehamilan.

Aktivitas tromboplastin cairan amniom

Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu.

Sitologi cairan amnion

Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih.

 Sitologi vagina

Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. Perlu diingat bahwa kematangan serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi.

Darah

  • Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr % dan TM II 10,5 gr %)
  • Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia
  • Hb 9-10 gr% : anemia ringan
  • Hb 7-8 gr% : anemia sedang
  • Hb ≤ 7 gr% : anemia berat
  • Urine

Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine. Untuk klien dengan kehamilan dan persalinan normal protein dan glukosa urine negative.

2.     Interprestasi Data

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.

Kata masalah dan diagnosa keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tapi membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. Masalah ini sering menyertai diagnosa. Diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan harus memenuhi stadar nomenklatur diagnosa kebidanan, yaitu:

  1. Diakui dan telah disahkan oleh profesi
  2. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
  3. Memiliki ciri khas kebidanan
  4. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
  5. Didukung oleh Clinikal Judgement dalam lingkup praktek kebidanan

Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya yaitu:

  • Diagnosa

Ibu hamil G P A H Post-term usia kehamilan 42 minggu, janin hidup, tunggal, letak kepala, intrauterine, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu dan janin baik.

Dasar : Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya.

a)      Riwayat Haid

Diagnosis tidak sulit untuk ditegakkan apabila hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya, diperlukan beberapa kriteria antara lain,

  • Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya
  • Siklus 28 hari dan teratur
  • Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir

Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele. Berdasarkan riwayat haid, seseorang penderita yang ditetapkan sebagai kehamilan dan persalinan postterm kemungkinan adalah sebagai berikut:

  • Terjadi kesalahan dalam menetukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal.
  • Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjadi kelambatan ovulasi.
  • Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir dan kehamilan memang berlangsung lewat bulan (keadaan ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita yang diduga kehamilan postterm).

b)      Tes Kehamilan

Bila pasien melakukan tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu.

c)      Gerak Janin

Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18-20 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada multigravida.

d)     Denyut Jantung Janin (DJJ)

Dengan stetoskop Laenec DJJ dapat didengar mulai umur 18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada umur kehamilan 10-12 minggu.

Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut:

  • Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif.
  • Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler.
  • Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan janin pertama kali.
  • Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec.

e)      Tinggi Fundus Uteri

Dalam trimester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial dalam sentimeter dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar.

f)       Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama, hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Pada trimester pertama pemeriksaan panjang kepala-tungging (crown-rump length/CRL) memberikan ketepatan kurang lebih 4 hari dari taksiran persalinan.

g)      Pemeriksaan Radiologi

Dapat dilakukan dengan melihat pusat penulangan. Gambaran epifiisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu dan epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu.

  • Masalah
    Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu.

Dasar: Kehamilan ibu telah lewat waktu, dan gerakan janin berkurang dari yang dirasakan biasanya.

  • Kebutuhan

Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti:

  • Berikan ibu dukungan psikologis.

Dasar: Karena kehamilan sudah lewat waktu.

  • Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu saat persalinan.

Dasar : karena ibu merasa cemas dengan kehamilan posterm ini.

  • Lakukan episiotomi untuk mempercepat kala II dan bila terjadi gawat janin.

Dasar : ibu mengalami posterm, janin besar dan terjadinya gawat janin.

  • Jahit laserasi akibat episiotomi.

Dasar : karena akibat robekan perinium dari proses persalinan.

  • Berikan ibu rasa nyaman dengan membersihkan dan mengganti pakaian ibu.

Dasar : karena ibu dalam proses persalinan.

  • Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu.

Dasar : Kebutuhan cairan teruma pada saat proses persalinan meningkat.

  • Anjurkan ibu untuk istirahat.

Dasar : Ibu lelah karena dalam proses persalinan.

3.     Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial

Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi.

Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah:

a)      Terhadap Ibu

  • Potensial partus lama

Dasar : karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, moulding kepala kurang. (Prawirohardjo, 2006).

  • Potensial trauma langsung persalinan pada jalan lahir

Dasar :

  • Robekan luas
  • Fistula rekto-vasiko vaginal
  • Ruptura perineum tingkat lanjut
    • Potensial Infeksi

Dasar : Karena terbukanya jalan halir secara luas senghingga mudah terjadi kontaminasi bacterial.

  • Potensial Perdarahan

Dasar : Trauma langsung jalan lahir dan kontraksi uterus yang tidak terkoordinir.

b)      Terhadap Janin

Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia, hipoksia, hipovolemia, asidosis, hipoglikemia, hipofungsi adrenal sampai kematian dalam rahim.

  • Potensial gawat janin atau oligohidramnion

Dasar: Karena diameter tali pusat yang mengecil dan penurunan volume cairan amnion,ena terlalu lama terjepit. Kadar eritroprotein plasma  tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini, bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm.

  • Potensial Kematian Janian

Dasar : Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu, mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium.

4.  Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain yang sesuai dengan kondisi klien.  Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah:

  • Untuk gawat janin.

Tindakan yang dilakukan jika terjadi gawat janin adalah

  • Atur posisi ibu miring kekiri.
  • Berikan oksigen 6 liter/menit.
  • Lakukan episiotomi.
  • Injeksikan dexamethason.
  • Pemberian cairan oral atau parenteral ( infus Dextrose 10 % tetesan cepat)
  • Pengotrolan BJJ diwaktu his dan diluar his.
  • Lakukan resusitasi setelah janin lahir.
    • Perdarahan postpartum.
    • Pasang infuse RL dan oksigen.
    • Periksa laserasi.
    • Jahit laserasi.
    • Berikan uterotonika.
    • Kolaborasi dengan tim medis untuk pengakhiran kehamilan.Lakukan manual atau KBI dan KBE pada kasus atonia uteri.

    5.     Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh

Suatu rencana asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak baik bidan maupun klien agar perencanaan dapat dilakukan dengan efektif. Semua keputusan harus bersifat rasional dan valid berdasarkan teori serta asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tidak dilakukan. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu:

  • Rawat klien dikamar bersalin untuk memantau proses persalinan.
  • Buat tanda persetujuan tertulis untuk perawatan dan tindakan klien dirumah sakit dan jelaskan tentang peraturan dikamar bersalin.
  • Kala I

Tindakan yang perlu dilakukan adalah:

  • Melakukan pemeriksaan TTV setiap 2-3 jam.
  • Pemeriksaan DJJ setiap ½ jam dan setiap 5 menit jika terjadi gawat janin.
  • Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong.
  • Memperhatikan keadaan patologis.
  • Pasien tidak diperkenankan mengedan.
  • Memberikan dukungan psikologis.
  • Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,keluarga.
  • Mengatur aktivitas dan posisi.
  • Menjaga privasi.
  • Penjelasan tentang kemajuan persalinan.
  • Menjaga kebersihan diri.
  • Mengatasi rasa panas
  • Pemenuhan nutrisi dan hidrasi
  • Kala II
    • Posisi ibu saat meneran (posisi duduk atau setengah duduk, posisi jongkok atau berdiri, posisi merangkak atau berbaring miring kekiri).
    • Memberikan dukungan pada ibu.
    • Memimpin mengedan.
    • Pemantauan DJJ setiap selesai mengedan.
    • Menolong kelahiran bayi (dengan melakukan episiotomi jika terjadi gawat janin).
    • Periksa tali pusat.
    • Melahirkan bahu.
    • Melahirkan sisa tubuh bayi.
    • Bayi dikeringkan dan dihangatkan seluruh tubuhnya.
    • Melakukan rangsangan taktil.
    • Lakukan resusitasi jika ditemukan bayi asfiksia.
    • Kala III
      • Manajemen aktif kala III (injeksi oksitosin 10 iu secara im, melakukan PTT, massase fundus uteri).
      • Pelepasan plasenta
      • Pemeriksaan plasenta dan selaputnya
      • Pemeriksaan laserasi
        1. Lakukan massase uterus untuk merangsang kontraksi.
        2. Evaluasi TFU.
        3. Jahit laserasi.
        4. Bersihkan ibu dang anti pakaian.
        5. Evaluasi KU ibu.
        6. Pantau TTV, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua.
        7. Pantau suhu ibu selama dua jam pertama
        8. Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua
        9. Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai kontraksi uterus yang normal
        10. Lakukan perawatan bayi dengan memberikan vitamin K dan salep mata
        11. Bersihkan peralatan.
        12. Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu.
        13. Anjurkan ibu utuk istirahat.
        14. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya.
        15. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala empat persalinan dihalaman belakang partograf.
      • Kala IV

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC

Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC

Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: