Hello…This's Mutiara Oktavianti

SUAMI SIAGA

 

SUAMI SIAGA

1.    Pengertian Suami Siaga

Suami siaga yaitu kewaspadaan suami untuk menjaga kesehatan dan keselamatan istrinya yang sedang hamil sampai dengan persalinannya. Suami siaga senantiasa siap memberikan yang terbaik untuk istri dan janinnya, sebagai suami siaga ia siap dan ikhlas untuk memeriksakan kehamilan istrinya dan ikut mempersiapkan persalinan dengan tenaga medis. (Gerakan Partisipatif penyelamat ibu hamil, menyusui dan bayi, 2003)

Suami siaga adalah seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap mewaspadai setiap resiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal – hal yang menganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila ada tanda – tanda komplikasi kehamilan. (Martin Lemar, 2006)

Suami siaga adalah kondisi kesiagaan suami dalam upaya memberikan pertolongan dalam merencanakan dan menghadapi kehamilan, persalinan dan nifas terhadap istrinya. (Nikita, 2010)

Pengertian suami siaga secara rinci adalah :

Siap :

  1. Secara mental. Ketika ibu sedang menghadapi perslainan, suami mempersiakan mentalnya untuk meberikan dukungan atau semangat kepada istri.
  2. Secara fisik, suami mempersiapkan untuk menjaga dan melindungi istrinya.
  3. Secara materil, suami mempersiapkan dana untuk persalinan istrinya.

Antar :

Suami mengantarkan istri ketika ia merasakan adanya tanda – tanda dan gejala persalinan.

  1. Jaga : Suami menjaga istri ketika menghadapi persalinan (Syafrudin dan Hamidah, 2009: 192).

Dalam konsep suami siaga, seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap mewaspadai setiap risiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal-hal yang mengganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila ada tanda-tanda komplikasi kehamilan.

Untuk menjadi suami yang benar-benar siaga, harus dibekali dengan pengetahuan tentang beberapa hal berikut.

  1. Upaya menyelamatkan ibu hamil.
  2. Tiga terlambat, yaitu terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan.
  3. Empat terlalu, yaitu terlalu muda saat hamil, terlalu tua untuk hamil, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat usia kehamilan
  4. Perawatan kehamilan, tabungan persalinan, donor darah, tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas, serta pentingnya pencegahan dan mengatasi masalah kehamilan secara tepat.
  5.  Transportasi siaga dan pentingnya rujukan.

   Dengan demikian perhatian suami dan keluarga bertambah dalam memahami dan mengambil peran yang lebih aktif serta memberikan kasih sayang pada istri terutama pada saat sebelum kehamilan, selama kehamilan, persalinan, dan sesudah persalinan.

Di berbagai wilayah di Indonesia terutama dalam masyarakat yang masih memegang teguh budaya tradisional (patrilineal), misalnya budaya jawa, menganggap istri adalah konco wingking (teman di belakang) yang artinya derajat kaum lelaki lebih tinggi dibandingkan dengan kaum perempuan, tugas perempuan hanyalah melayani kebutuhan dan keinginan suami saja. Anggapan seperti ini memengaruhi perlakuan suami terhadap kesehatan reproduksi perempuan.

Suami lebih dominan dalam mengambil keputusan dan tidak bertanggung jawab dalam beberapa hal seperti ber-KB serta adanya perbedaan kualitas dan kuantitas makanan suami yang biasanya lebih baik dibandingkan istri dan anaknya karena beranggapan bahwa suami adalah pencari nafkah dan sebagai kepala rumah tangga sehingga asupan zat gizi untuk ibu yang sedang hamil, menyusui, dan anak menjadi berkurang.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengubah budaya tradisional tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Menyosialisasikan persepsi tentang kesetaraan gender sejak dini melalui lembaga formal, misalnya sekolah formal maupun non-formal atau melalui program lain yang ada dalam kelompok masyarakat lalu mengaplikasikannya kedalam praktik kehidupan sehari-hari.
  2. Memberikan penyuluhan pada sarana atau tempat-tempat berkumpul dan berinteraksi para lelaki, misalnya tempat kerja dan forum komunikasi desa
  3. Memberikan informasi sesering mungkin dengan stimulus yang menarik perhatian, misalnya melalui poster.
  4. Masyarakat Indonesia pada umumnya masih mempunyai perasaan malu dengan lingkungan sekitar, sehingga perlu dipikirkan suatu aturan atau kegiatan yang dapat memotivasi kepala keluarga untuk segera merealisasikan kepedulikan kepada istrinya
  5. Satgas GSI di tingkat desa perlu membuat tanda sedemikian rupa dengan warna terang (merah, hijau, kuning) dan ditempelkan di rumah warga yang memiliki ibu hamil yang perlu mendapatkan perhatian lebih dan kewaspadaan.
    Pendapatan

Dengan demikian perlu diperkenalkan pandangan baru untuk memberdayakan kaum suami dengan mendasarkan pengertian bahwa :

  1. Suami memainkan peranan penting, terutama dalam pengambilan keputusan yang berkenan dengan kesehatan reproduksi pasangannya
  2. Suami sangat berkepentingan terhadap kesehatan reproduksi pasangannya
  3. Saling pengertian serta adanya keseimbangan peranan antara kedua pasangan dapat membantu meningkatkan perilaku yang kondusif terhadap peningkatan kesehatan reproduksi
  4. Pasangan yang selalu berkomunikasi tentang rencana keluarga maupun kesehatan reproduksi antara satu dengan yang lainnya akan mendapatkan keputusan yang lebih efektif dan lebih baik.

2.    Partisipasi suami sebagai suami siaga

a.    Membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatn istri yang sedang hamil :

  1. Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri
  2. Mengajak dan mengantar istri utuk memeriksakan kehamilan kefasilitas kesehatan terdekat minimal 4 kali
  3. Memenuhi kebutuhan gizi bagi istrinya agar tidak terjadi anemia dan memperoleh istirahat yang cukup
  4. mempelajari gejala komplikasi pada kehamilan seperti darah tinggi, kaki bengkak, perdarahan, konsultasi dalam melahirkan, infeksi dan sebagainya
  5. Menyiapan biaya transportasi
  6. Melakukan rujukan ke fasilitras kesehatan yang lebih lengkap sedini mungkin bila terjadi hal- hal yang menyakut kesehatan kehamilan dan kesehatan janin misal perdarahan.
  7. Menentukan tempat persalinan (fasilitas kesehatan) sesuai dengan kemampuan dan kondisi daerah masing – masing

 

b.    Merencanakan persalinan yang aman

  1. Menentukan tempat pertolongan persalinan
  2. Menginformasikan keluhan kehamilan istri kepada petugas kesehatn
  3. Menginformasikan riwayat kehamilan istri
  4. Mengetahui yanda – tanda istri yang akan melahirkan seperti keluarnya cairan air bening dari vagina, dan mulai terasa sakit di perut seperti diremas – remas
  5. Mengetahui hal – hal yang harus dipersiapkan oleh istri menjelang persalinan
  6. Mendukung upaya rujukan paska persalinan bila diperlukan
  7. Mengetahui bagaimana mencegah terjadinya tetanus pada bayi, yaitu ibnu hamil diberikan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) dua kali selama kehamilan

c.     Menghindari keterlambatan dalam pertolongan medis

Partisipasi suami yang dioperlukan oleh istri pada saat hamil antara lain suami harus dapat menghindari 3 T (Terlambat) yaitu : terlambat mengambil keputusan, terlambat ke tempat pelayanan dan terlambat mengambil keputusan, terlambat ke tempat pelayanan dan terlambat memeproleh pertolongan medis. Sehingga suami hendaknya waspada dan bertindak jika melihat tanda – tanda bahaya kehamilan.

Untuk meghindari kematian ibu hamil yang disebabkan oleh komplikasi akibat  kehamilan (perdarahan, infeksi, dan lain – lain) maka partiossipasi usumai sangat diharapkan yang dapat terwjudnya dalam bentuk suami siagaa yaiitu :

  1. Siap, suami hendaknya waspada dan bertindak atau mengantisipasi jika melihat tanda bahaya kehamilan
  2. Antar, suami hendaknya merencanakan angkutan dan menyediakan donor darah jika dieprlukan
  3. Jaga, suami hendaknya mendampinmgi istri selama proses dan selesai  persalinan.

d.     Membantu Perawatan Ibu Dan Bayi Setelah Persalinan

Partisipasi suami dalam hal ini antara lain :

  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan masa nifas
  2. Mengetahui apa yang yang perlu diperhatikan untk menjaga kebersihan istri pada nifas
  3. Mgingatkan dan mendorong istri agar memebrikan ASI Ekslusif tanpa susu formnual dan makanan tambahan lain selama enam bulan kepada anaknya
  4. Menemani istri untuk membawa bayinya mendapatkan imuniasi sebelum bayti umur 1 bulan dan seterusya untum mendapatkan imunisai lengkap
  5. Memotivasi istri agar menyusi bayinya selama 2 tahun
  6. Merencanakan dan menentukan salah satu alat / cara kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran
  7. Memotivasi istri nagar memperhatikan makanan dan gizi yang dibutuhkan oleh ibu dan bayi
  8. Memberikan motivasi istri untuk memeriksakan kesehatn ibu dan bayi secara rutin ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat
  9. Memotivasi atau mengajak istri agar aktif dalam kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) dilingkungannya (Drs. Bambang Agus Suryono, MM,2008).

 

3.    Langkah – Langkah Menjadi Suami Siaga

  1. Pertama    : Suami menyediakan kebutuhan semua kebutuhan pangan istri demi pertumbuhan janin, denga cara meberikan tambahan vitamin, penambahan darah, serta kalsium. Suami juga mesti rajin mengontrol pola nmakan istri, menyediakan makanan ekstraberkualitas dan memberikan motivasi kepada istri untuk rajin mengkonsumsi makanan – makan bergizi tersebut.
  2. Kedua       : suami memerikan kasih sayang dan perhtian, serta berperan dalam turtut menjaga kesehatan kejiwaan istri agar tetap stabil, tenag dan bahagia. Mamberikan perhatian penuh kepada istri misalnya, mendiskusikan perkembangan yang terjadi pekan demi pekan, bersama – sma mencari informasi mengenai kehamilan dan pendidiakn anak, menemani istri kedokter atau rumah sakit untyim memerikasakan kehamilan setiap bulan, mendiskusikan rencana – rencana ke depan bagi clon bayi, hingga menyempatkan diri secara rutin mengelus perut istrinya smabil mengucapkan kalimat kasih sayang.
  3. Ketiga       : Suami memberikan hak – hak istimewa kepada istri selama hamil, seperti : mengambil sebagian dari tugas istri bila anda tidak memilki seorang pembantu denganm mencuci pakaian atau menyetrika baju.
  4. Keempat   : suami mengajak istri untuk mendengarkan irama musik klasik, karena suara – suara lembut yang e,nagasah rasa keindahan bisa merangsang pertumbuhan otak dan kecerdasan anak.
  5. Kelima      : Sauami ikut terlibat dalam mempersiapkan saat – saat kelahiran janin, misalnya menyediakn biaya persalinan, kebutuhan hidup calon byi hingga kesehatan ibu.
  6. Keenam    : suami membantu kesiapan dan kekuatan mental istri untuk melahirkan, suami harus memberikan perhatian, dorongan, serta motivasi kepada istri menghadapi masa sulit ini. Beberapa cara bisa ditempuh, seperti mengikutkan istri ke dalam kelas pelatihan prenatal (pendidikan prakelahiran) yang diselenggarakan di rumah sakit, hingga turut menemani proses kelahiran itu sendiri.
  7. Ketujuh    : Suami ikut hadir saat proses kelahiran, karena kehadiran suami meski sekedar menemani, memegang tangan dan membisikkan kata – kata penghibur, akan memberikan dorongan dan menambah kekuatan mental ekstra bagi istri (Drs. Bambang Agus Suryono, MM, 2008).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Eny Retna Ambarwati. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas.Yogyakarta: Nuha Medika.

Nurani, Meytha Winarso, inang. Gerakan Partisipatif Ibu Hamil, Menyusui dan Bayi.

Syafrudin Hamidah, 2009. Kebidanan Komunitas, Jakarta: EGC.

Lamar, Martin. 2006. Suami, Warga, dan Bidan Siaga.

Suryono, Bambang Agus. 2008. Partisipasi Suami.

Yulifah, Johan Tri. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: